Seni Kesadaran Untuk Melepaskan
Kalau sederet Asma Tuhan yang engkau kenal hanya 99 saja, Shinta. Aku akan menambahkannya satu untuk engkau ketahui, itu adalah Maha Guyon.
Seperti kemarin aku bercerita denganmu bahwa aku mulai menanggalkan ia yang sulit aku kejar. Ya, benar. Banyak hal yang telah aku tinggalkan karena nyatanya memang sulit untuk aku kejar, Shinta. Tidakkah engkau juga memahami ini sepanjang perjalanan kehidupanku? Iya, meski menyisakan beberapa hal, tetapi di puncak kesadaran semuanya harus di lepaskan, Shinta. Inilah yang bertahun-tahun lalu aku pelajari dari teman-teman Buddha, bahwa orang hidup itu harus memiliki kesadaran. Termasuk kesadaran untuk melepaskan. Misalnya rasa sakit, rasa ini hanya akan di rasakan jika engkau memegangnya. Bagai setangkai mawar yang cantik, tanganmu akan terluka bila memegang tangkainya. Namun, andai engkau melepaskannya, tanganmu akan lekas sembuh.
Barangkali itulah yang juga di amini oleh semesta bahwa namanya tak akan lagi terukir dalam dokumen-dokumen yang sejauh ini aku kerjakan, Shinta. Sebuah pesan di kala siang dari ujung gawai terlihat yakni orang bernama sama perhari ini turut menanggalkan tugasnya di medan pertempuran. Antara sedih dan senang, namun inilah kenyataan hidup yang akan terus berjalan.
Kehidupan adalah membiarkan engkau melaluinya dengan tersenyum dan bahagia ketika beranjak pergi dari setiap perjalanan, Kekasih. Apapun keadaannya, pahit atau manis, kenangannya tak boleh membuatmu terus tersungkur dalam luka.

Gabung dalam percakapan