ramayana: Ekam Sat Wiprah Bahuda Wadanti
Di malam dengan semilir angin yang lembut ini, rasanya seperti saat tanganmu membelai wajahku, Shinta. Bintang-bintang di langit mengitari Rembulan, apakah engkau juga sedang menatapnya? Melihat langit yang indah nan elok ini dari jendela kamarmu? Atau apakah engkau sedang menangis di kejauhan tempat yang penuh akan ngeri itu, dan kemudian air matamu di tadah oleh pelayan-pelayan Rahwana?
Shinta, setiap pertengahan bulan pada pertanggalan Jawa, Rembulan memperlihatkan wajahnya yang sempurna. Ia cantik, elok dan sangat memesona, konon bahkan jutaan Pungguk di dunia menitikkan air mata darah. Sebab air matanya tak lagi dapat mengalir. Sungguh, cerita singkat yang sangat menyayat urat nadi para pemilik hasrat cinta.
Banyak orang selalu bertanya kepadaku tentangmu yang mana namamu aku samarkan menjadi Rembulan, Shinta. Mereka selalu menanyakan rupa ronamu yang membias di angkasa. Seperti apakah wajah nyatamu itu? Apakah seperti dewi-dewi penghuni langit? Ah, iya, tentu saja, wajahmu tak hanya seperti. Tetapi memang engkaulah sang dewi pemberi karunia.
Mereka berkemungkinan tidak sadar, bahwa Rembulan yang aku tatap adalah Rembulan yang sama saat mereka menatapnya. Pada bahasa Sanskerta yang konon dinukil dari Kitab Suci Weda berbunyi:
"Ekam Sat Wiprah Bahuda Wadanti"
Tuhan hanya satu, namun orang bijak menyebut-Nya dengan banyak nama.
Rembulan, eh, maksudku, Shinta, bukankah namamu juga memiliki induk yang sama? Dari Sanskerta? Nama yang memiliki tingkat religiositas di atas rata-rata. Nama yang bahkan ingin aku lepaskan dalam hatiku, namun Tuhan malah mengukirnya dalam banyak cara. Sekalipun itu adalah cara yang tak dapat dilogika. Iya, Tuhan menuliskannya dalam dokumen-dokumen yang aku kerjakan setiap hari, Shinta. Bagaimana aku tidak menitikan air mata jika cara Guyonan Tuhan semacam ini? Dengan jalan mana lagi caraku menghapusnya ketika Guyonan Tuhan menjadi semacam ini? Bahkan saat aku ingin lari dari kerinduanku, malah Tuhan mempertemukannya denganmu. Kangen macam apa ini, Shinta?
Mereka bahkan terlalu terjebak dalam nama Shinta. Bagaimana bisa jika hanya nama tanpa memperdulikan maknanya? Bukankah namamu aku pilih karena memiliki arti yang mendalam?
Tuhan saat ini sedang mengaduk-aduk rinduku, kangenku, perasaanku padamu. Terkadang aku lelah dan ingin rasanya menyerah, Shinta ....tetapi, apakah aku akan secepat itu?

Gabung dalam percakapan