Hikmah Perjalanan: Melepas Yang Tak Terkejar
Hari ini, aku di desa, Shinta.
Pada perjalanan kemarin, dari kejauhan tampak hujan sudah menungguku. Aku anggap itu adalah tangisan alam, yang tentu saja aku juga siap melebur bersamanya dengan tangisku sendiri. Akan tetapi, kenyataannya berbeda, Shinta. Alam tak mengizinkan aku turut menangis, bahkan gerimis pun menghindar dari laju perjalananku.
Aku abadikan momen-momen yang indah itu, saat mega mengalun indah terbang ke angkasa. Jalan-jalan basah seperti pipi seseorang yang telah basah oleh air mata. Tetapi, ia justru lebih hijau, lebih segar dan tentu saja tumbuh lebih kuat. Inilah hikmah perjalananku pulang ke desa.
Bersama dengan itu, aku mulai menanggalkan ia yang sulit aku kejar. Memang, perjalanan bukan hanya mengejar sesuatu yang terus menjauh. Jika begitu, engkau akan lelah sendiri, Shinta. Bukankah begitu? Bukan karena ia tak baik atau tak cakap, tetapi justru akulah yang ternyata tak baik untuknya. Terkadang, dalam kehidupan kita juga harus wawas diri, Shinta.
Dengan kesadaran, aku lepas apapun tentangnya, mungkin memang kesempatan yang sama tidak akan datang dua kali. Tetapi ini adalah pilihanku, Shinta. Adakalanya dalam kehidupan kita juga harus tegas untuk memilih dengan arif dan bijaksana, meskipun itu pilihan sulit atau pilihan yang terlalu menyakitkan atau berdarah-darah. Inilah kehidupan.
Aku ikhlaskan lagi, toh, berapa kali di tempat kelahiranku ini aku harus punya kesadaran, punya keikhlasan diri, punya cermin untuk berkaca tentang siapa aku? Dalam remang malam dan angin yang menusuk tulang-tulang. Aku terbangkan ia ke semesta, supaya menemukan tempat yang ia inginkan.
Begitupun, terima kasih, Tuhan. Telah mempertemukan dengan guru lainnya, guru yang menjadi teman sekaligus pemberi kebijaksanaan.

Gabung dalam percakapan