Kesetiaan Sejati Dalam Ujian Kehidupan
Saat aku lahir ke dunia, kesetiaanku langsung di uji, Shinta. Waktu berlalu dan si kecil itu sudah mulai berpikir, apakah aku tetap setia? Tentu saja, Shinta. Aku di besarkan serta di berikan pondasi kehidupan dengan keberagaman yang kental. Bahwa dunia ini tak hanya sekadar hitam atau putih, tentu engkau juga dapat melihat pelangi di langit, yang bahkan setelah hujan. Ingat, sekali lagi dengan kata-kata indah ini, meskipun datangnya setelah hujan atau dengan guntur, pelangi tetap datang, Shinta.
Apa pesan Tuhan melalui semesta? Dia akan mengujimu dari beratnya rintik hujan yang datangnya satu, dua, tiga, hingga guntur yang menggelegar sekalipun. Tetapi jangan lupa, keindahan pelangi akan datang setelahnya. Jika engkau-pun tak mampu membaca ayat-ayat-Nya yang tertulis. Semesta menjadi hamparan kitab-Nya yang tak tertulis dan nyata. Dia aku curahkan dalam komposanku berjudul "Dia" dari-Nya aku belajar tentang cinta, menulis, juga berpuisi. Saat manusia tak mengenal tulisan, nasihat dan kebijaksanaan. Dia sudah mengenalkannya melalui kitab-kitab-Nya.
Tak hanya saat lahir, aku kecilpun di uji kesetiaanku. Dengan berbagai kekurangan. Apakah aku menyerah? Tidak, Shinta. Aku masih menebar senyum. Senyuman yang tak dapat di katakan oleh hati yang tergores luka kekasihnya.
Begitupula saat besar, ujian datang bertubi-tubi dari pertemanan, lingkungan, dan kisah cinta, Shinta. Aku menyerah? Sekali lagi aku katakan dengan tandas: tak akan terganti, tak akan berhenti, untuk cinta yang telah aku jalani. Sekalipun Tuhan berkali-kali merajam hatiku sendiri dengan hal yang paling aku sayangi. Harus kehilangan apa yang aku cintai. Meski di khianati oleh orang yang paling aku percaya. Dan keadaan yang menggulungku ke tempat peristirahatanku. Di sini, aku tak menyerah dan tetap setia pada-Nya.
Ø£َØ´ْÙ‡َدُ Ø£َÙ†ْ Ù„َا Ø¥ِÙ„ٰÙ‡َ Ø¥ِÙ„َّا اللهُ ÙˆَØ£َØ´ْÙ‡َدُ Ø£َÙ†َّ Ù…ُØَÙ…َّدًا رَسُÙˆْÙ„ُ الله

Gabung dalam percakapan