Soal Pengen dan Kepinginan
"Kalau aku dulu penasaran, Truk. Misal Kiai gitu yah, dia itu masih punya rasa pengen gitu nggak sih? Sampai-sampai aku bertanya pada dua guruku. Guru pertama menggambarkan bahwa Kiai itu mirip ama orang naik motor. Tinggal lihat aturan. Pokoknya singkatnya Kiai itu harus bisa injak rem. Jadi waktu pengen...ini dalam aturan bagaimana? Kalau melanggar, ya lekas injak rem. Sementara guru yang lain berkata bahwa semua orang selain Kanjeng Nabi, itu punya rasa pengen, pada apapun itu, tak terkecuali siapa dia. Dari situ pula ia selalu mewanti-wanti untuk tak benar-benar mengikuti jalannya, karena apa? Lhoo, barangkali salah juga. Ia selalu berkata, ikutilah jalan Kanjeng Nabi. Jadi pada akhirnya aku tau, dan jadi ndak kagetan misal di TV kok ada berita si A begini dan begono. Heuheuheu."
"Sek-sek, ikutilah jalan Kanjeng Nabi, lha emang kamu ndak tanya to, Gong? Lha lewat mana? Kan kita udah nggak sejaman sama Kanjeng Nabi? Kalau tanya orang, bagaimana kalau orang itu juga salah jalan? Susah ini. Kalau aku penasarannya sama diri ini, tapi sek, antara Aku, aku, ku milikku, milik ku, diri, diri ku, dll, ini menurutku beda loh, Gong? Jadi kalau mau ngomongin rasa penasaranku, kita harus se-spektrum dulu."
"Waah, ora, aku sok ora paham'e Truk tentang bab ngono iku. Se-spektrum, tapi frekuensine beda, iki menurutku juga bisa beda tafsir juga nantinya. Aku juga jadi ingat guruku, saat mbedah tafsir, dia juga selalu ngomong, ini tafsir yang sering di pakai orang-orang, dan ini masih ada 30an tafsir lagi yang tak di pakai orang-orang. Makanya, kalau kamu mau nafsirkan versi kamu sendiri, ya boleh, ya sah saja, asal nggak memaksa orang untuk mengikuti tafsirmu, wong kamu bukan siapa-siapa. Asal, tafsirmu berdasarkan rasa cintamu pada Tuhan, bukan yang lain."
Teks asli di publikasikan pada tanggal 14 Juni 2021.
Gabung dalam percakapan