Puisi Dari Medan Laga Kehidupan
Giok mentah takkan bersinar tanpa goresan asahan ribuan fajar
Kitab-kitab suci adalah tangga awan, mengantar kaki menembus langit bertingkat
Dari pekatnya lumpur, teratai budi pekerti merayap naik dengan perkasa
Berdiri anggun, duduk sejajar di antara kilau emas dan jubah para cendekia
Hidup ini adalah bentangan sutra berharga yang ditenun dengan benang keringat
Setiap hela napas merupakan ketukan genderang perang, haram hukumnya berlutut pada nasib
Kereta waktu ialah anak panah yang melesat dari busur langit tanpa menengok balik
Tiada ruang bagi debu kemalasan untuk hinggap dan membekukan tungku jiwa
Goresan tinta di jemari menjelma pedang yang membelah kabut kemiskinan
Mengangkat derajat yang rapuh, tegak mandiri bagai pinus di puncak gunung Jayawijaya
Akar tekadnya menghujam dalam, tak lekang waktu bak pohon cemara yang mengawal angin malam
Menembus dinginnya keputusasaan, hingga mekar berani bagai bunga plum di atas putihnya salju abadi
Gabung dalam percakapan