Sumber

Ponokawan: Selamat Berkurban, Semoga Semua Makhluk Berbahagia

Gbr: merdeka.com, 2016
Gbr: merdeka.com, 2016
Pernah suatu ketika, Bagong bertanya kepada seorang Buddhis tulen, katanya, Truk.

Lha tanya apa?

Ia bertanya, dalam Buddha, kan mencintai semua makhluk dan kebahagiaan setiap makhluk ini sesuatu yang mutlak. Alias tidak dapat di ganggu gugat. Lha terus, dalam kondisi kurban begini, bagaimana pandangannya? Bukannya seharusnya bertentangan?

Ia terkekeh sambil menjawab: lha wong ada tidaknya berkurban ini di saat yang sama juga penyembelihan hewan, misalnya, tetap ada. Coba kalau tidak ada? Pasar daging jadi sepi. Bakso-bakso, steak-steak, dll, dst, tutup, loh. Pasar sepi, swalayan atau pasmod daging sepi, resto-resto sampai kaki lima juga gak jualan — lha wong gak ada daging di jual. Ini malah banyak kebahagiaan yang menghilang. Jadi, kurban ini ya biasa saja. Malahan, dengan adanya kurban ada manfaat secara tidak langsung. Misalnya, orang yang biasanya makan daging ini kelas menengah atas, misalnya, sekali lagi misalnya. Dengan adanya kurban, orang yang biasanya makan tahu tempe setiap hari, bisa ikutan makan daging. Bahkan, daging kurban kadang di simpan di lemari-lemari mereka dengan banyak olahan untuk di makan sampai berbulan-bulan lamanya. Setidaknya, aku pernah dengar seseorang bicara di dalam bus. Apakah ketika kurban resto, swalayan, itu, tutup? Ndak, lho. Orang yang biasa makan daging ya tetap aja makan, bebas. Kebahagiaan tetap meraja di antara para makhluk.

Wiih, bagus juga ya cara pandangnya. Suka ini aku, Truk!

Ya, seharusnya memang begini, to, Reng. Karena kita hidup di suatu bangsa, negara, yang majemuk. Bukan golek menange dewe. Heuheuheu.

Selamat berkurban.
Semoga semua makhluk berbahagia.
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!