Ponokawan: Nonton Film Lagi
Semalam, aku nonton film lagi, Gong. Sesuatu yang, yaa, sudah lama aku tak melakukannya. Apalagi di pusat perbelanjaan ini. Tak ku tahu sinopsis atau cuplikan pra-tayangnya, pokoke njoget. Loh, bukan, maksudku pokoknya gas!
Film di buka dengan sekilas pandang alur cerita yang akan kami lalui bersama. Kemudian film melompat ke masa depan, tepatnya lima tahun kemudian. Di sini, pemeran utama bermunajat dengan Salam Maria. Kaget? Nggak, sih. Lha wong hari ini aku tahu Kenaikan Yesus Kristus — ingat, Gong, menurut Keppres tahun 2024; Kenaikan Isa Almasih itu sudah tidak berlaku. Met merayakan bagi yang memperingatinya.
Kaget sih, ndak, Gong. Toh, ada tuh koleksi musikku berjudul Ave Maria:
Ave Maria, gratia plena, Dominus tecum.
Meski funfact-nya, hardisk-ku baru aku format kemarin malam. Eh, malah tetap amsyong, dong. Lha gimana, wedus sama pinguin itu memiliki domain kehidupan yang berbeda, to? Tapi, ya, gak papa. Toh, hidup memang memiliki konsekuensi. Kamu gak ngapa-ngapain aja dadi kembang lambe, apalagi kamu bergerak, sok bijak, sok mau adil, dll. Dadi kembang api — noh, di timur tengah. Iya, sih, karena kaya akan minyak, jadi apinya sulit padam, Gong. Eh.
Tetapi ini sinyal yang bagus. Karena selain penontonnya ramai, aku aja kaget, sih. Dari pada film yang dulu pernah ku tonton, hari pertama aja yang nonton cuma tujuh kepala. Ku menangis, gimana dapur produser tetap ngebul kalau gini? Ya, kan, Gong?
Sinyal yang bagus bahwa kita di Indonesia ini salah satu negara yang majemuk — alias ora mung nggone Mbahmu tok, Gong. Ada berbagai macam suku, agama, ras, antargolongan, dst. Jadi itu pengingat, supaya suatu saat nanti kalau ada izin bangun gereja misalnya, itu ya di permudah, bukan di persulit. Udah sedikit, malah di persulit, nantinya jadi penyakit. Eh.
Ada juga momen di mana salib itu menjadi terbalik. Kaget juga? Ya ndak, lah, Gong. Aku tahu, ini tujuannya biasanya sebagai simbol anti Kristus. Karena di saat yang sama, Ibu dari sang pemeran utama kerasukan. Sudah umum terjadi karena akhir ini banyak film kelas horor mengadopsi gaya ini. Namun, jika aku tidak silap, ya, Gong. Kan tau sendiri, jaringanku berbeda gak pakai Jempol, pakainya Mentari dan simPATI.
Simbol salib terbalik sebenarnya juga simbol resmi gereja, loh. Nah, gimana tuh? Konon dari informasi yang pernah ku baca, simbol ini lahir ketika St. Petrus mau mangkat, ia minta bahwa nanti tak di samakan seperti Yesus. Hayoloh? Tapi ini merupakan bentuk kerendahan hati dan tahu diri dari seorang St. Petrus, loh, Gong. Karena mungkin, ia merasa bahwa dirinya tak sejajar dengan Yesus.
Ya wes, gitu tok, sih, paling, yang bisa aku tuliskan untuk anak cucuku nanti di sini. Eh. :-D
Kalau gawaimu jelek dan beruntung, halaman ini akan memiliki latar belakang musik pengiring, Gong. Biasanya kalau gawaimu bagus, sih, musiknya ilang.
Kalau gawaimu jelek dan beruntung, halaman ini akan memiliki latar belakang musik pengiring, Gong. Biasanya kalau gawaimu bagus, sih, musiknya ilang.

Gabung dalam percakapan