Sumber

Karna: Berhati-Hatilah Dalam Menuntun Hidupmu

Wayang Karna
Wayang Karna
Wayang ini, namanya, Karna, Kekasih.
Tentu saja jika aku tidak salah ingat. Karena kadang-kadang seseorang ingat namanya, namun lupa wajahnya. Ingat wajahnya tetapi lupa teladan kehidupannya. Sebab bisa jadi hal-hal seperti di tulis oleh pujangga zaman dulu warisan Nusantara ini juga ada di sekitarmu.

Kekasih, Karna ini tokoh yang ketika terjadi perang besar. Ia tak mau gabung dengan keluarganya. Padahal perang besar tersebut mempertemukan keluarganya dengan keluarga lain, malahan ia gabung dengan keluarga lawan dari keluarganya. Kenapa coba? Bukan karena membangkang. Tetapi karena ia adalah seorang ksatria dan ia membuktikan bahwa dirinya ini ksatria, bukan omon-omon yang cuma pintar retorika biar di kira orang paling benar dan pener — kalau kata orang Jawa.

Kekasih, Karna ini bertahun-tahun di hidupi, di kasih makan, di klambeni, dst, dll. Oleh keluarga yang kelak akan menjadi musuh keluarganya tersebut. Inilah yang ia ingat dan kemudian menjadikannya tekad kuat, bahkan setelah di bujuk oleh siapapun untuk bergabung dengan keluarganya sendiri. Baginya, jika ia bergabung dengan keluarganya ini tidak hanya menghina dan menginjak-injak orang-orang yang telah membesarkannya. Namun sebenarnya ia sedang merendahkan dirinya sendiri lebih rendah dari pada anjing. — bahasa orang Jakarta: lo itu harus tau diri!

Inilah jiwa ksatria, Kekasih.
Jiwa yang tau bahwa hutang rasa itu tidak bisa di balas dengan apapun, bahkan jika engkau kaya dan setengah kekayaanmu di bagi dengan orang yang pernah memberikan rasa kepadamu. Itu tak akan menutup hutang rasamu. Maka berhati-hatilah menuntun hidupmu, karena bisa jadi setiap langkah yang engkau putuskan sebenarnya memiliki rasa-rasa yang seharusnya engkau timbang, menimbang dan mengingat sebelum engkau memutuskan. Waspadalah.
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!