Para Penunggang Kuda
Kemarin, to, Gong.
Aku melewati jalan seperti biasanya, di saat kemacetan tumpah ruah. Satu polisi sedang menggiring dua remaja yang naik satu kuda. Yaa, lucu juga, masa belakang pakai peci, depannya ndak. Eh, maksudku pakai helm, alias penutup kepala saat berkendara.
Ternyata, di sebuah emperan ruko sudah ada remaja lain yang ikut "terciduk", ia tampak sedang meratapi nasib paginya yang malang. Meski, niat polisi sebenarnya juga bagus karena selain soal menegakkan ketertiban, ini juga soal keselamatan. Lha wong sekarang masyarakat itu kalau naik kuda pada seruduk-serudukan kek celeng.
Oiya, sebelum di jalan ini. Tepat di perempatan lampu merah. Lha yo, ini lampu merah lho, Gong. Di kira ajang balapan lintasan panjang kali, ya. Meski aku ndak tau persis siapa yang salah, soalnya ada bapak-bapak naik supra, sepertinya ia berada di tengah akan belok ke kanan. Sedangkan di belakang bapak-bapak ini ada remaja juga naik kuda otomatis. Begitu lampu kuning, eh, hijau. Bapak-bapak langsung ambil haluan kanan, si anak remaja betot gas kencang kek betot bulu burung tanpa ampun. Ciiiiiiiiit. Jelas berdecit ini suara ban yang menggores aspal tipis. Duuuuar! Dan ya, si bapak selamat, si anak terjungkal. Karena aku sudah lewat, ya sudah, aku lambaikan tangan dan pergi menanggalkan kenangan.
Kembali soal polisi yang menciduk dua remaja.
Dari lawan arahku juga ada seorang remaja naik kuda dengan bersarung. Waaaah, aku sambil senyum tipis, memantau dari spion. Aku curiga kalau kata orang Madura itu benar: peci itu sudah sama dengan helm. Eh, bukan. Maksudku yang ini, ke mana-mana kalau pakai sarung itu aman. Apakah kau tahu, Gong? Iya, aman. Remaja bersarung ini melenggang tanpa terlihat oleh polisi-polisi yang sedang berjaga di sana. Dalam hati aku berkata: memang benar, Tuhan Maha Guyon.
Terkadang dalam hidup, banyak hal-hal di luar nurul terjadi, red. kalau kata anak zaman now, Gong. Mungkin, si remaja bersarung membaca do'a sebelum berkendara, selain ia aman dalam berkendara karena dalam lindungan Tuhan, ia juga "sementara aman" dari denda akibat terkena tilang. Tuhan sedang membuat sibuk polisi yang sedang berjaga sehingga satu remaja bersarung ini "aman sesaat". Meski akan selalu ku katakan bahwa di dunia ini tidak ada waktu atau masa yang aman. Waspadalah.

Gabung dalam percakapan