Ki Demang & Murid-muridnya #33

“Ki, saya punya pertanyaan.”

“Oiya, silakan. Katakan saja...”

“Kenapa kalau hukuman bagi rakyat biasa berat, sedangkan hukuman bagi koruptor misalnya selalu enteng?”

“Oo, heuheuheu. Kamu yang salah liat. Sebetulnya hukuman bagi koruptorlah yang berat, maksudmu mesti koruptor kurungannya cepet. Bahkan ada yang ndak dikurung, gitu to?”

“Njih, Ki. Leres. Kok Sampeyan ketawa?”

“Justru itu, seumpama kamu jadi koruptor dan korup milyaran duit. Terus hukumanmu cuma 6 bulan dan setelahnya kamu bebas. Mesti kamu bakal korup lagi. Hayoo, iyo ora?”

“Heuheuheu. Kemungkinan iya, Ki. Soalnya ndak kapok.”

“Ya itulah cara kerja Tuhan, kalau Dia sayang sama seseorang makanya seseorang itu diamankan. Mbok ya cara berpikirmu agak nganan opo ngiri dikit, jangan manteng ke satu titik saja.”

“Heuheuheu. Iya, Ki. Selama ini yang kita pahami bahwa kalau ndekem di penjara itu terlalu hina sekali.”

“Iya, ndak papa. Tapi ya bukan berarti jalan hidupmu mau masuk penjara yah.”


Teks asli di publikasikan pada tanggal 16 November 2020.
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa