Ketika Itu Di Lembah Kahuripan

Para penduduk sekitar berdo'a menurut Agama dan kepercayaannya masing-masing.
Setelah berdo'a penduduk berkata : "Sopo wae sing jumeneng ning papan iki ndang nisiho, mergo kulo ra weruh sampeyan. Papan iki arep tak paculi kanggo anak putune sampeyan kabeh. Ojo ndersulo yen papane tak ganti tandurane. Nyuwun dongane mawon mugi Gusti maringi rejeki ingkang katah ugi barokah kangge anak-putu sampeyan. Aamiin."

Salah satu tradisi di bumi Jawa yang masih lestari di pedesaan. Mereka bukanlah orang pintar dan cerdas yang mampu membuat roket atau apapun teknologi di zaman ini. Mereka bekerja sesuai dengan hati-nuraninya, karena mereka mengerti dan paham bahwa kehidupannya di dunia hanyalah mampir ngompe sak wetoro dan semua yang ada di dunia adalah titahing kang Maha Suci. 

Mereka tidak meributkan siapa yang paling pintar dan siapa yang bodoh. Dalam kacamata mereka terdapat banyak dimensi atau bahkan apapun yang tidak dapat mereka pikirkan, di mana dimensi yang sedang mereka lakukan bisa saja berbeda dimensi dengan yang orang lain lakukan. Untuk itu mereka selalu menjunjung tinggi rasa lembah manah, tebih ajrih, unggah-ungguh sak piturute. Tidak perlu merasa paling benar karena kebenaran menurut mereka merupakan keputusan yang Maha Bijaksana.

Apakah mereka akan ikut berlomba-lomba unjuk gigi di bidang teknologi? Sampai saat ini mereka hanya menyeleksi endi sing pantes, endi sing olo untuk di terapkan di kehidupan mereka. Mereka akan berpikir jauh tidak hanya satu tahun dua tahun, satu abad atau dekade atau hitungan lainnya. Mereka tidak berhenti di bidang fisika tetapi juka metafisika, tidak pula berhenti di depan mata tapi juga yang tak kasat mata dan sebagainya. Mereka memang sering di katakan bodoh dan tak mengerti, tapi jika kita di zaman ini boleh jujur dan saling mengerti juga memahami. Mereka bukanlah orang bodoh, bertahun-tahun lamanya mereka belajar mengenai kalam Tuhan. Sesuatu yang hampir tidak ada di zaman ini. Zaman ini akan berpikir mengenai faktor-faktor yang dapat di hitung.

Mereka yang lahir dari alam dan akan kembali jasadnya kepada alam. Mereka pula belajar kepada alam. Alam yang berwarna-warni. Mereka tidak akan bertani kopi dan cengkih semata yang nilainya tinggi, akan tetapi pepohonan lain sebagai modal keseimbangan, kehidupan dan pangan. Untuk itu mereka melihat kemegahan di zaman ini, bisa saja cengkih dan beberapa hasil tani lain adalah gambaran megahnya zaman ini, lalu apakah mereka tidak sadar? Mereka benar-benar sadar bahwa urip gur ngenteni titi wancine di pundut kalian sing gawe urip. Apakah itu cengkih, apakah kopi, apakah tanaman jenis lain tidak pernah mengerti satu sama lain kapan mereka akan mati. 

Mereka yang semakin terpinggirkan, tersudutkan dan hampir hilang termakan zaman.


Teks asli di publikasikan pada tanggal 22 Februari 2018.
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa