Dari Potret Sebuah Kota
Bisa kah kau membayangkannya?
Ketika lautan mengamuk dan angin berteriak?
Di kota yang kumuh, sudut-sudut bernafaskan api?
Sekali lagi apa yang ingin kau perbuat?
Tidak bisa di pungkiri bahwa di sini pusat aktivitas.
Ketika manusia-manusia kecil menjadi roda bagi mereka.
Diam dan teruslah terdiam karena kau merasa aman.
(Tak ada yang abadi, sekalipun kau bersekutu dengan setan).
Kau bercumbu dengan kekasihmu di mana sungai meluap.
(Teruslah kau pupuk otakmu).
Menghilang saat halilintar menyambar.
(Bawalah batang hidungmu menuju tanah terdalam).
Bila kita terus terdiam (akan hancur).
Terus di dikte dan mengalir di cucian mereka ( semakin parah).
Hanya tinggal kenangan manis di antara sudut kemegahan.
Teks asli di publikasikan pada tanggal 9 November 2016.
Gabung dalam percakapan