Sumber

Rahvayana: Realistis Cinta & Kehidupan Dunia



Shinta, setahun itu ternyata begitu cepat. Tidak terasa beberapa hari lagi adalah waktu di mana aku melihat senyummu pertama kali di Sungai Gangga yang begitu lekat. Engkau layaknya Sang Kala dalam ukiran pualam, tetap kuat dari masa ke masa.

Shinta, apabila setahun saja terasa sangat cepat. Bagaimana dengan enam bulan? Iya, enam bulan tak terasa sudah berlalu. Dinding tempatku merindu-pun sudah banyak berubah. Dahulu sepi bak Asvattha peneduh jiwa, namun kini banyak orang-orang mulai menyadari dan mendekatinya. Mungkin, memang benar, bahwa sunyi adalah bunyi. Ia menarik setiap jiwa-jiwa yang mendengar resonansi.

Shinta, dari enam bulan menjadi tiga bulan. Tak seperti sunyi yang semakin membunyi, justru bunyi yang ramai itu menjadi kian sepi dalam hati. Meski bayanganmu tetap menunjukkan eksistensi, namun memelukmu adalah sebuah ilusi.

Shinta, begitulah jatuh cinta. Engkau tak dapat menentukan cintamu untuk siapa. Karena terkadang, setiap orang bersama bukan karena mencintai, tetapi realitas kehidupan yang menghampiri, bukankah aku pernah mengatakan? Meski begitu, sudah selayaknya berusaha mencintai kebersamaan alih-alih terjerembab dalam halusinasi angan.

Shinta, demikianlah kehidupan. Ia terus berputar mengajakmu berjalan dengan terpaksa atau kesiapan. Ia mengajakmu membuka setiap lembaran baru pada setiap pagi dan menjadikan hari lalu adalah pelajaran. 

Shinta, tidak usah larut dalam sedihmu. Ayo, raih kembali jalanmu, temukan premachand jiwamu. Sebab pada kehidupan marcapada ini, tak ada hukuman. Engkau tak sedang di hukum, karena istilah hukuman adalah persepsi dari orang-orang yang tak memiliki harapan lagi kepada Tuhan.
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!