Rembulan: PIUS
Rembulan, Jum'at kemarin memang di takdirkan untuk menjadi hari kesedihanku. Dalam ruang yang terbatas ini, hanyalah engkau yang pernah aku ceritakan lebih dalam soal kehidupanku.
Pada Jum'at kemarin, teman lamaku sekaligus guruku dalam membawa gerobak besi mangkat. Ia mengajarku dalam dua waktu berbeda, pertama dalam kerja penuh waktu dan setelahnya sebagai pekerja paruh waktu.
Namun, saat pada paruh waktu inilah aku benar-benar di asah untuk harus bisa membawa. Antara kepaksa, di akalin atau memang ini sudah jalan hidupku untuk aku jalani dan sebagai pembelajaran. Ya sudah,
Rembulan, bukankah aku selalu mengajarimu untuk melihat dunia ini dengan sisi-sisi yang positif? Begitulah aku sejauh ini hidup, Rembulan.
Pada akhirnya dari satu jarak ke jarak yang lain. Aku bisa. Kini aku bisa ke mana-mana dengan ilmu yang telah di berikan oleh teman sekaligus guruku ini.
Tetapi, aku masih saja tidak bisa mengetuk pintu hatimu, Rembulan.

Gabung dalam percakapan