Rejeki Tidak Tertukar
Memang benar, Gong.
Dulu, guruku pernah berkata: khawatir besok tidak bisa makan itu udah menghina Tuhan. Jangankan manusia, ayam atau hewan lain yang konon tidak berakal saja tetap bisa hidup.
Kemarin, karena aku belum sempat tarik tunai dan uang yang ada hanya 75rb edisi terbatas. Mau tidak mau akhirnya harus keluar juga. Dengan perasaan campur aduk, sehari setelahnya masih terngiang-ngiang, Gong. Karena ya, jelas tak eman-eman uang edisi terbatas tersebut.
Dua hari setelahnya.
Esok harinya aku telah tarik tunai, karena berencana sore hari akan pangkas rambut. Ini penutup kepala sudah terasa lebat sekali, Gong. Sepulang bekerja, sudah aku niatkan untuk pangkas rambut sekalian. Tepat beberapa meter di tempat pangkas rambut, seseorang sudah mendahuluiku, yang artinya aku harus menunggu. Ya sudah, memang seperti ini, mau gimana lagi? Aku rapikan tas dan kubuka permen yang ada di tasku. Setelahnya, seorang bapak yang tadi masuk ke tukang pangkas berkata: Sampeyan duluan saja, Mas.
Waaah. Ini jelas kalau rejeki memang tidak ke mana, Gong.
Tidak sampai di situ, sepulang di rumah, uang 75rb selumbari diberikan kepadaku lagi. Ini dobel rejeki, Gong. Apakah benar, rejeki memang tidak tertukar?

Gabung dalam percakapan