Sumber

Setiap Hal Sudah Di Perhitungkan



Beberapa waktu lalu, bunga Rembulan bertanya kepadaku, Kekasih; “Memang benar engkau sudah tak bersamanya, secepat itu?” Dengan mengambil nafas paling dalam, aku menjawabnya tandas; “Iya.” Memang cepat, Kekasih, apa yang tidak dapat cepat di lakukan? Bukankah seperti yang selalu aku tulis kepadamu, segala hal di dunia ini bukan milikku? Seperti banyak hal yang telah menghindar, hilang, pergi dan semacamnya dalam hidupku, aku tak akan mengejarnya. Bahkan, tidak akan aku meminta untuk bertahan atau kembali. Sebab, setiap hal sudah di perhitungankan, bukan? 

Kehilangan buatku merupakan pelajaran lama dalam kehidupanku, wahai Rembulan. Sudah lama aku kehilangan seorang yang sangat dekat dan lekat, dalam hidupku. Apalagi jika hanya kehilangan seorang yang datang bertamu kepadaku? Untuk apa aku memaksa tinggal? Bukankah Tuhan selalu memberi gantinya? Bukankah Tuhan Maha Kaya? Bukankah Tuhan Maha Pemberi? Sekali lagi, untuk apa aku takut kehilangan? Lebih-lebih jika aku kehilanganmu, apakah aku takut? Tentu tidak, aku tidak akan mati-matian mengejar bayanganmu, seperti surat “Rama kepada Rahwana; Di balik aku dan dirimu ....”, Rembulan.

Sudah sejak lama pula aku mengatakan kepadamu, Kekasih, bahwa hidupku cuma akting. Mengatakan apa yang menjadi suratan takdir dan melakukan apa yang telah menjadi tugasku. Jika ada perkataanku atau tingkah lakuku yang tak layak, itu murni karena aku tak cakap. Bukan karena Penulis Naskahnya yang buruk. Selebihnya, kesemuanya, aku kembalikan kepada Yang Memiliki-ku. Saat ini, yang aku bisa hanyalah berusaha menjadi Rembulan sepertimu, yang memancarkan kembali keindahan dari sumber cahaya. Seperti syair dari Syams Tabrizi dalam kidung cinta:

“النور الذي تتركه بداخل أحدهم، يُضيئك أنت”
 .شمس التبريزي —


“Cahaya yang kamu tinggalkan di dalam diri seseorang, akan menerangimu.”
— Syams Tabrizi.
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!