Kopi Kampoeng Lawas Makna Hidup Wawas
Sebenarnya, yang merasakan kopi ini adalah pura hati jauh di dalam sana, Kekasih. Sebelum menyeduhnya, aku hirup lekat dengan aroma megahnya yang sedang bergejolak. Lantas mencicipinya.
Agar tidak lupa akan nikmat Tuhan akan manisnya dunia, aku tuang seujung kristal putih bak intan dari taman adnan. Lalu kembali aku menyeduhnya, ini aku persembahkan kepada hidupku supaya jangan pernah lupa ayat-ayat Tuhan yang tidak tertulis. Meski yang tertulis-pun, aku tidak pernah membacanya.
Sepahit kehidupan yang menerpa, bilamana masih ada orang yang menganggap hidup kita lebih beruntung artinya tidak boleh ada kata mengeluh dari diri kita, Kekasih. Pun, jika dalam sepanjang hayat pahit itu menyerang, jika masih ada orang yang meminta bantuan kepada kita, mengeluh merupakan pantangan utama. Mungkin, begitulah Tuhan mengingatkan akan firmannya mengenai “Maka nikmat-nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian berdua (jin dan manusia) dustakan?”
Jangan terlalu melihat ke atas, kenyataannya bahwa ampas kopi tersebut tidak mengapung di bibir-bibir gelasnya. Tetapi ia menep jauh di dalam relung hati & jiwa (mu).

Gabung dalam percakapan