Suatu Kisah
Shinta, dulu ketika Rama menyerang Alengka, terdapat sebuah kisah. Ketika Alengka di ujung tanduk dan seluruh garda terdepan mereka gugur, Rahwana pergi membangunkan Kumbakarna, di sana ia merayu Kumbakarna supaya bangkit dari tidur lelapnya. Namun, kala itu Kumbakarna tak lekas membuka mata. Karena yang ia dengar hanyalah cerita manis soal Shinta, seorang wanita yang di bawa pergi oleh Rahwana ke Alengka.
Di sisi lain, Alengka semakin membara, pasukan Rama sudah mulai menginjak ke wilayah-wilayah istana. Lagi-lagi Rahwana menemui Kumbakarna, namun, saat ini ia menanggalkan nama Shinta, yang ia bahwa adalah nama Alengka. Alengkadiraja. Begitu Kumbakarna mendengar cerita yang di selimuti tangis dari saudaranya, hati Kumbakarna menyala bak Ultraman. Gunung dan pegunungan gugur, meledak-ledak, ketika Kumbakarna terbangun, ia lalu berkata: aku bangkit bukan untuk mempertahankan Shinta, tetapi aku bangkit untuk mempertahankan tanah kelahiranku dan bangsaku, aku tidak rela jika tanah kelahiranku, bangsaku, di injak-injak semena-mena oleh bala tentara Rama. Kini Kumbakarna bangun, hadapilah aku, raksasa yang sedang kelaparan. Duaaar!
Ada cerita lain soal hewan-hewan, Shinta. Mungkin aku tak pintar, sepintar engkau yang ketika mapel atau makul Sains nilainya mentereng, bak Venus yang tak ingin terlahap oleh Dewa Apollo. Misalnya ayam, koreksi kalau aku salah, ayam ketika ingin menetaskan telurnya, ia harus berpuasa, Shinta. Begitu telurnya menetas, ia akan selalu memproteksi anak-anaknya dari berbagai ancaman. Itu juga selain menjadi pencari makanan untuk anak-anaknya. Burung-burung juga sama, Shinta, ia akan menyuapi anaknya dan mengajar anaknya hingga mampu terbang di angkasa. Dan seterusnya.
Sebagai manusia modern, kita telah di warisi ilmu pengetahuan yang telah di pelajari selama berabad-abad lamanya. Ini adalah soal tata krama, sopan santun, etika, dll, Shinta. Seperti jangan pernah merendahkan orang tepat di depan orang-orang yang telah membesarkannya, ini sangat melukai perjuangan hidupnya. Begitupula dengan bangsa dan negara. Apalagi jika engkau dikenal sebagai cendekia, tak pantas seorang cendekia hanya tertawa lantang dengan mulutnya. Menjadi cendekia sejatinya adalah jalan yang engkau siapkan dengan sadar supaya hidupmu di baktikan menjadi pengamal kebajikan.
Seumpama tungku perapian, cendekiawan harus siap menjadi kayu bakarnya untuk menerangi, menghangatkan dan menjadi bahan bakar yang mematangkan makanan-minuman kepada setiap orang.

Gabung dalam percakapan