Cocotku, Cangkemku
Bagong, kadang-kadang aku juga berpikir, misalnya ada orang ndak ngikutin cocotku, cangkemku, omonganku buat ke dalam hal-hal baik atau sesuatu yang benar. Ingat, meski yang benar itu belum tentu pener. Ya bisa jadi bukan salah mereka, bukan karena mereka tidak berpikir atau menggunakan intelegensinya.
Tetapi lebih ke aku ini siapa, sih? Lha kok tiba-tiba dudu sopo-sopo cocotku tibake kudu di percoyo? Kan yo ndak masuk logika, to, Gong? Itu semisal aku berlogat seperti Petruk, yang apa adanya, pamomong dan penuh kasih kepada sesama.
Bukan siapa-siapa kok perkataannya layak di pertimbangkan, terus di gugu. Seharusnya ya aku yang sadar diri sejak awal, masih sesama pejalan. Oiya, ngomongin jalan, aku jadi inget, pesan saat berpergian hati-hati di jalan yang di hati jangan jalan-jalan ini juga kurang benar, deh, Gong. Nyatanya banyak tuh, orang yang udah hati-hati tetapi kena seruduk dari depan, belakang, kiri-kanan. Berarti kan pesan itu masih kurang benar, ya? Atau karena semua orang di jalan tidak mengamalkan pesan tersebut? Ah, ya, meski mengamalkan juga kalau apes tetap saja tidak ada di kalender. Lalu sebenarnya apa yang bener, tuh?

Gabung dalam percakapan