Sumber

Tentang Rindu



Selumbari, kekasih.
Saat senja mulai menyapa, langit jingga menyelimuti dunia dan suara indah bergema.

Dari balik pohon yang rindang, besar nan kekar itu, semakin aku mendekatinya, bunyinya perlahan jelas aksennya.

Tak lain, suara itu berlanggam milik Bilal bin Rabah. Tentu aku ingat betul, di mana konon saat dulu, langgam inilah yang mampu membasahi pipi-pipi orang-orang yang mendengarnya.

Air mata terjatuh di mana-mana karena kerinduan yang mendalam. Mungkin, seperti itulah bila rindu telah mencapai titik puncaknya. Tak lagi ada kata-kata, karena kata-kata itu terbatas.

Ternyata, tak hanya kata-kata yang terbatas. Karena hampir semua di dunia ini memiliki batasan, kekasih. Itu adalah yang engkau ketahui dan tidak engkau ketahui.

Lalu apakah yang menjadi penawar rindu?
Penawar rindu adalah pertemuan, kekasih. Jika dengan pertemuan tak lagi dapat di ketemukan. Maka linangan air matalah yang menjadi pelipurnya.
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!