Menangis & Tertawa
Kata guruku, Semar itu kalau tertawa sambil menangis, Shinta. Begitu pula saat menangis juga sambil tertawa.
Mungkin, selama ini orang menganggap aku mahir dalam bidang-bidang kekinian. Padahal, yo ndak gitu juga. Misalnya, pernah temanku iseng ngasih umpan balik ke aku karena situs tempat kerjaku ini sudah usang...waah, ya tentu aku ndak bisa berkutik. Ya, ya, ya, tapi aku punya alasan.
Aku ingat temanku pernah berkata begitu karena beberapa malam yang lalu, tetanggaku komplain hal yang sama. Malahan, untuk saat ini situs tersebut sudah di modifikasi di banding ketika temanku itu ngomong. Jadi, paling tidak lebih sedap di pandang mata, meski pengalaman penggunaannya jadi berkurang.
Malam itu, saat tetanggaku belum berhenti bicara, langsung aku menyela dan mengatakan kekurangannya ini dan itu. Sebenarnya, itu bukan aku yang pegang, Shinta, jadi aku ndak pernah punya akses ke sana.
Shinta, apakah kamu percaya dengan yang aku katakan? Kalau aku ndak pegang itu? Lha wong misal aku pegang, paling tidak yaa, kamu tau sendiri, lah...
Kadang aku pengen nangis sambil tertawa seperti Semar, Shinta.

Gabung dalam percakapan