Jehovah Jireh
Tuhan yang menyediakan.
Seharian di penuhi gabungan kata tersebut, Shinta, muncul dalam tulisan bokong-bokong truk. Apakah pemilik truk itu seorang pendeta? Mungkin iya, mungkin tidak, seperti tulisanku beberapa bulan lalu tentang Inna Ma'al Usri Yusra. Bisa saja penulisnya orang biasa yang sedang berjuang di tengah lautan kehidupan. Tetapi bukan tentang siapa penulisnya, Shinta, karena kebenaran jika dikatakan oleh pendusta-pun tetaplah kebenaran. Apakah menurutmu itu kata baru dalam hidupku? Ohh, tentu tidak. Dulu aku pernah punya teman bernama Aditya, namun, tak sedikit orang menjulukinya David. Konon, nama David adalah nama baptisnya.
Karena sudah jelas ia menjadi gembala Yesus yang baik, aku pernah bertanya padanya tentang arti dua kata tersebut. Di luar dugaan malah ia membabarnya menjadi tiga kalimat. Bila tak salah, ada tiga, jika ada lebih, ini sangat jauh dari pengetahuanku, Shinta. Namun engkau dapat mengkoreksiku. Sayangnya, aku juga hanya hafal dua, itu adalah Jehovah Jireh & Jehovah Rapha.
Lagi-lagi bila tidak salah arti, Jehovah Jireh artinya Tuhan menyediakan dan Jehovah Rapha adalah Tuhan yang menyembuhkan.
Bokong truk yang bertuliskan Inna Ma'al Usri Yusra sering aku jumpai ketika saat-saat perjalanan terjal hidupku sedang aku alami. Kebingungan langkah dan pilihan-pilihan yang kesemuanya memiliki konsekuensi ngeri, Shinta. Namun, aku selalu ingat cerita guruku tentang Nabi Musa, Shinta. Kurang lebih, beliau bercerita bahwa Nabi Musa pernah ingin melihat Tuhan, hanya saja, gunung-gunung yang tak kuasa merasakan keagungan Tuhan menjadi hancur luluh di susul pingsannya Nabi Musa. Selanjutnya, guruku berkata: apalagi dapuranmu ini yang hidupnya amburadul dan berantakan, opo yo mau Tuhan melihat wajah bajinganmu ini? Tapi yo ndak papa, kita tetap harus memuji dan mengingatnya, eh, siapa tau kalau Tuhan ndak mau datang ke kalian, ke kita-kita ini, Dia mengirimkan utusan-Nya supaya menunjukkan jalan yang lurus.
Apakah bokong-bokong truk adalah petunjuk lantaran aku ndak bisa ngaji, ndak mau ngaji, ndak mau belajar merasakan eksistensi-Nya, Shinta? Atau itu sebuah ucapan yang menyiratkan supaya aku ndak perlu dilema? Ndak perlu gelisah? Dll? Lantaran Ia adalah penyedia dalam kehidupan ini?

Gabung dalam percakapan