Sumber

Ndas Itik

Seni AI gaya Van Gogh


Soal, ndas.

Guruku pernah berkata bahwa kata-kata itu terbatas. Setiap kata juga dapat di carikan pembenaran dan kekurangannya. Serta dalam kata, tergantung cara, waktu, atau tempat seseorang mengucapkannya — “Su/Des/Cuk, dari mana?” misal di ucapkan oleh seorang sahabat kepada sahabatnya, itu biasa saja, ucapan keakraban. Tetapi jika orang tidak di kenal di panggil dengan ucapan seperti itu, bisa bogem mentah yang di dapatkan.


Bila mau di salahkan, ternyata ya ini salah semua orang. Misalnya anak-anak zaman sekarang, tidak laki dan perempuan, sama saja. Bahkan bukan hanya “wong ndalanan” tapi juga praktisi akademisi sering menyelipkan: anjay, anjir, atau familinya. Tidak dapat dipungkiri bahwa “slang” ini adalah akar dari kata anjing, memang lebih halus saja.


Kata umpatan anjing yang — sangat halus pernah aku temui di daerah Kedu, Temanggung. Beberapa orang mengumpat dengan kata “bugelan”, yang ternyata adalah turunan dari kata “bugel” merupakan dasanama atau sinonim dalam bahasa jawa yang artinya anjing. Meski begitu, tetap saja bukan berarti latah mengikuti “budaya” mengumpat.


Ndas.

Bila kata ndas dijadikan lagu dan dinyanyikan oleh Happy Asmara misalnya — yang sudah ada dengan judul “Ndasku Mumet Ndasmu Pie”, ini kecil kemungkinan memantik amarah, yang ada audiens berjoget dan bergoyang mengikuti irama musik.

Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!