Penelitian: Kebahagiaan
Bagaimana tidak bahagia? Tiap bangun pagi tidak di kejar-kejar tenggat waktu. Meski bermacet-macetan, nyatanya ngobrol sambil jalan merayap atau menghabiskan rokok juga sudah bahagia.
Jika di negara lain banyak orang stres karena kerja, engkau setiap sampai tempat kerja-pun masih dapat mendahulukan ngopi dan bercerita tentang mimpimu yang tragis semalam.
Jangankan itu, lubang-lubang yang berada di jalanan-pun malah di jadikan lelucon sebagai bahan bakar tawa.
Ketidakmampuan wakil rakyat dalam mewakili aspirasi masyarakat juga di anggap sebagai tempat bermain kanak-kanak.
Di mana ketidakbahagiaan itu, kekasih? Mengapa ranking negara bahagia selalu di wakili orang-orang yang serupa? Orang-orang yang butuh pengakuan bahwa ia adalah masyarakat yang paling bahagia? Apakah anggapanku bahwa setiap hal adalah subjektif juga dapat di legitimasikan untuk objek bahagia?

Gabung dalam percakapan