Bunga
Namaku bunga,
Berjejer di setiap jalan taman kota,
Kamu anggap aku menarik,
Tampak cantik,
Terlihat unik,
Dan mungkin asyik,
Aku tak paham,
Tapi biarkanlah karena aku merasa baik-baik saja,
Toh, itu hanya penilaianmu,
Mungkin kamu tak pernah merasa sepertiku,
Terlihat bebas meski sebetulnya terpenjara,
Iya, terpenjara,
Karena penjara tidak hanya di kantor-kantor polisi,
Atau di 'basecamp' para pemberontak,
Di taman ini aku terpenjara oleh rasa cintaku padamu,
Aku berpuasa,
Aku menyendiri,
Aku merenung,
Dan pura-pura tersenyum di hadapanmu,
Seringkali aku melihat pasangan di ujung bangkau tua,
Di bawah pohon kebersamaan,
Satu dan yang lain saling melempar kata,
Kata yang jarang terucap ketika hujan dan awan berpisah,
Kalau aku tidak salah dengar,
Satu dari mereka berkata "Aku kesepian jika jauh darimu"
Jika aku punya mulut,
Mungkin aku akan tertawa,
Namun tidak,
Yang aku bisa hanya sedikit meliuk-liuk di terpa angin,
Bagai penari balet gaya eropa lama,
Setelah itu aku akan menagis tersedu-sedu,
Bagaimana bisa?
Aku tak tega,
Di seberang jalan seorang paruh baya jajakan koran,
Sekepal-kepal keringat berjatuhan,
Bak darah dan air mata peperangan,
Setiap saat aku melihatnya,
Mereka benar-benar kesepian,
Karena jarang seorang dermawan terlihat untuknya,
Aku diam dan membisu,
Tapi mata serta hatiku tak pernah berhenti melihat,
Untuk merasakan apa yang mereka rasakan,
Lebih dari sebuah rasa rindu yang sepasang kekasih itu rasakan,
Kepulan asap-asap tak kasat mata menyumbat mataku,
Tak kasat mata untukmu,
Katakan untukku 'Emisi Ok',
Ya sekali lagi,
Oh, tapi bukan mataku,
Karena aku tak punya mata,
Anggap saja stomata,
Agar kamu berdamai dengan pengetahuanmu,
Kendaraan berlalu-lalang seperti semut-semut mencari penghidupan,
Wakil rakyat duduk di belakang meja,
Aku tahu,
Karena tempat hidupku tak jauh dari mereka duduk-duduk ringan,
Dan aku melihat,
Di seberang jalan ada beberapa anak tak lanjut sekolah,
Sering aku menghibur diri,
Mungkin mereka nekat tak bersekolah,
Mengikut jejak william rosenberg dengan dunkin donutsnya,
Atau david karp dengan tumblr,
Atau bill gates, steve jobs, travis kalanick,
Dan mark zuckerberg platform yang kamu gunakan sekarang,
Serta yang lain,
Yang tak aku tahu,
Pengetahuanku hanya dari kertas-kertas lusuh yang sengaja di buang,
Di dekatku,
Sampai-sampai mengenai mukaku,
Ahh bukan, aku tak punya muka,
Tapi mukaku menghadap kemana-mana,
Kemana aku menghadap,
Di sana mata para lelaki jelalatan,
Memetik sekuntum riasku,
Ya, karena riasku baru saja mekar,
Berbeda jika itu sudah menua,
Merekapun tak sudi tuk sekedar meliriknya,
Lempar pandang untuk wanita jalang,
Tapi tidak masalah,
Karena aku tidak punya masalah dengan mereka,
Masalah yang ada cukup sederhana,
Katakanlah al-jabar,
Mereka berpikir untuk sesuatu yang sebetulnya sudah teratur,
Ya, meski itu terlihat tidak teratur,
Atau ibnu sina dengan pengobatannya,
Bagiku, aku adalah dokternya,
Dan kamu serta mereka adalah asistenku,
Aku sakit dan kamu bertanya,
Aku menjawab dan kamu keluarkan resep,
Tapi bukan aku jika percaya begitu saja,
Rasa percayaku bukan padamu,
Padamu itu hanya tentang kalkulasi,
Antara cocok dan tidak,
Percayaku pada Tuhanku jauh melebihi itu,
Bahkan kamu tak bisa melihatnya,
Jangan tatap aku dengan begitu sinis,
Jutaan saudaraku mati terbakar di pelosok-pelosok desa,
Sebagian meregang nyawa dengan penuh siksaan,
Mereka di sulap menjadi tumpukan kertas,
Dari kertas itu berdiri 'real estate' atau sejenisnya,
Banyak lelaki pergi dari desa,
Lalu bekerja untuk mereka,
Sering aku melihat seperti tawon keluar sarang,
Pindah sarang ganti sarang,
Sarang yang selalu berubah setiap waktu,
Seperti naik dan turunnya harga BBM,
Kamu mudah di setir untuk protes,
Sedang untuk sekedar kencan dengan wanitamu kamu tak pernah keberatan,
Ribuan uang melayang setiap menit,
Dan kamu tertawa,
Sedang aku?
Aku hanya diam,
Karena hasratku melalui kupu-kupu yang malang,
Kembali di bangkau tua ujung itu,
Tidak pernah ada bekas telapak tangan atau kaki,
Karena tidak ada satupun yang mencoba menggali akan kenangan,
Antara adam dan hawa,
Atau romeo dan juliet,
Atau mimi dan mintuno,
Atau siapakah itu,
Itu perempuan yang menangis sembari menutup matanya,
Untung bukan lelaki,
Jika lelaki menangis,
Pada siapa ia akan sandarkan kepalanya?
Aku tidak tahu,
Karena aku bukan lelaki,
Mungkin kamu tahu,
Seperti ketika alam bersabda,
Pada siapa mereka tunduk?
Tentu bukan pada undang-undang parlemen,
Bukan pula surat menyurat kedutaan,
Lalu?
Aku juga tidak tahu,
Seperti roro jonggrang kerahkan dayang dan penduduk desa menumbuk padi,
Apakah itu tentang mitos atau fakta,
Seperti candi boko dan candi borobudur,
Seperti oslo dan solo,
Seperti sulaiman dan solomon,
Seperti alexander dan iskandar,
Atau lima ibu kota peru,
Dan lima deret angka indonesia,
Seperti saat kamu salah dengan washington dan newyork,
Seperti england dan united kingdom,
Seperti china dan taiwan,
Seperti nato dan isis,
Seperti minyak bumi dan kelapa sawit,
Seperti saat kamu lupa denganku,
Campakkan aku hingga layu dan mengering.
Semarang, 2 Juli 2018
Gabung dalam percakapan