Renjana Mengikat Rindu
Hampir sepekan lalu, dari temaram fajar hingga temaram senja aku dan ratu hidupku menyusuri jalanan, mendaki bukit serta menuruni lembah, Shinta. Suara burung laksana pujian dan hinaan orang, terkadang merdu, kadang pula seperti pekikkan yang menyambar. Kami tidak perduli, bukankah begitulah kehidupan?
Bersama kuda tuaku yang telah menemani dua orang sarjana dan dua orang yang telah lulus sekolah menengah itu, kami awali dengan mengunjungi pusat berobat. Ya, beginilah kesibukan seorang pelayan, yang seyogianya menjadi pelayan seorang ratu, Shinta. Ketika ratu sakit, pelayanlah yang ikut serta kesepian dalam hidupnya. Kini, sang ratu sudah dua hari tak enak makan, begitu enak, beberapa waktu keluar lagi. Duh, pusing! Ataukah ini yang dinamakan nikmat dari Tuhan? Meski umumnya orang mempunyai persepsi bahwa nikmat itu adalah segala sesuatu yang baik-baik. Bukankah begitu?
Akhirnya kabar baik dari hasil pemeriksaan tiba.
Ya, kabar baik saja intinya.
Setelah mengobrol dan memutuskan bahwa akan ku pacu kudaku mendaki bukit barisan. Sang ratu merengek ingin ikut. Duh, apakah aku perlu mengganti kuda dengan kura-kura? Ia berkata dengan tandas, kata yang selalu di ulang-ulang: mau makan jajanannya, Pak Blangkon. Mungkin, inilah yang disebut mengidam, Shinta. Yaa, sudahlah ku kasih topeng kura-kura saja kuda kesayanganku itu, agar tak lari-lari. Meski aslinya berat, namun gimana lagi? Jangan-jangan ini kunci agar sang ratu kembali menemukan nafsu makannya?
Dari satu tempat, ke tempat lain.
Dari satu waktu ke waktu yang lain.
Dari satu hutang ke pembayaran hutang yang lain.
Inilah jalan hidup beserta kehidupannya yang lain, Shinta.
Hingga akhirnya menjelang rona siluet terpejam, kami berpacu menuju tempat pengasingannya di dunia. Sebuah daerah yang mendidiknya menjadi seperti saat ini. Perjalanan di kampung halaman yang rasanya asing juga buatku, sebab sedari kecil kehidupanku habis di tanah rantau. Beginilah juga sulaman benang kehidupanku, Shinta. Ia di tenun dari peluh, darah dan air mataku.
Kami melewati sebuah jembatan, bangunan yang dalam isi pikiranku, pernah aku melihatnya. Namun di mana? Lha wong ini saja pertama kali aku melewatinya — seingatku. Dan tibalah pada sebuah pertigaan, jalan ujung di mana tempat mengakhiri setiap rindu dan menghabiskan air mata kangen tersebut.
Shinta, sekumpulan asap mulai menyebar dan membumbung tinggi ke langit beserta harapan-harapan dari penjual bakaran di ujung jalan. Romanya mengusik hidung dan menarikan rumput-rumput di dalamnya. Sang ratu berkata: coba beli ini dulu, bakaran ini juga enak. Sebagai pelayan, ku hanya bisa membalas dengan senyum sembari menjaga kuda tetap pada tempatnya.
Bakarannya, kupatnya, brongkosnya. Enak semua!
Kata yang selalu ia ucapkan sejak saat itu.
Meski sudah ratusan rasa pernah ku coba, selalu aku yakin akan pepatah jawa yang telah melegenda itu, Shinta: bahwa ada harga, ada rupa. Termasuk itu masakan. Memang, enaknya bukan hanya berasal dari harga, namun juga kasih sayang tangan peramunya. Kendati demikian, zaman kini, bukankah bahan-bahan bertumpu pada ekonomi? Sekalipun jika di katakan, orang desa tak butuh dollar — namun, apakah negeri kita akan di bawa ke ruang dedollarisasi? Berani sekali.
Bukan, ini bukan tulisan untuk mengkritisi kebijakan. Sebab aku juga sudah berhenti mengkritisi sejak belasan tahun lalu. Bukan juga akan bercerita tentang dongeng sebuah negeri. Ini adalah renjana yang mengikat rindu.
Kupatnya tutup, beralihlah ke brongkos yang telah legendaris. Suatu waktu, bahkan sempat masuk tayangan televisi nasional pungkasnya, Shinta. Belilah yang engkau mau, selama duitnya masih ada, jawabku untuk semua ceritanya yang selalu bercerita tentang kemegahan tempat-tempat yang ada di sana.
Bungkus semua.
Bakaran yang sempat menggoda bulu hidung, ku cicipi. Dengan ekspektasi standar, rasa ini di atasnya. Terutama bumbu kacangnya, atau sebenarnya karena aku suka saja dengan setiap masakan dengan bumbu-bumbu kacang? Jadilah ini tidak obyektif? Mungkin.
Soal isian tusuknya. Ku katakan; ini biasa saja. Benar, meski terkadang jujur itu menyakitkan. Namun inilah faktanya. Soal bumbu, oke, harus diakui bahwa bumbunya enak, ditambah dengan sedikit rasa pedas yang bisa bikin nampol mulut orang-orang.
Untuk brongkosnya, oke, lah.
Ini enak, dagingnya empuk, setiap ramuan rasanya benar-benar masuk ke dalam setiap sekat-sekat dagingnya, bak setiap kenangan kan masuk ke dalam hati manusia. Apakah itu kenangan manis ataupun pahit. Inilah mungkin kenapa hati, iya, hati kambing lama kelamaan jadi hitam. Karena di sanalah setiap hal di saring, yang manis lolos, yang pahit kan menjadi keraknya — ntah kapan ia akan keluar dari prodeo.
Santapan-santapan lain masuk ke dalam kantong doraemon yang telah ku bawa. Termasuk santapan yang menjadi hantu gentayangan selama ini. Apalagi jika bukan bakarannya Pak Blangkon, Shinta. Aku juga tak tahu apakah itu di buat dengan adonan tangis Rahwana yang setia menunggu dan mencari titisan Dewi Widowati, sehingga dapat mengaduk-aduk setiap emosi rasa.
Baiklah.
Waktu sudah sangat mepet, meski waktu sendiri tak pernah memiliki sekat, bukan? Tak seperti hidup ini yang di kelas manapun, kapanpun, selalu memiliki sekat-sekat.
Dengan perasaan gembira, kami bertolak kembali ke gubuk sederhana yang harus melewati setidaknya dua kabupaten atau kota, lagi. Dekat, sih, tetapi ternyata wilayah memang di pisah-pisahkan begini, Shinta. Alasannya untuk keadilan, kemajuan, kesejahteraan, dan ke-ke yang lain, panjang.
Kuda yang sejak pagi berlari terus, rasanya sudah kelelahan, Shinta. Tanjakan-tanjakan terjal tak lagi ia makan seperti omongan seorang penghutang yang renyah sekali. Atau mungkin kuda ini sebenarnya sudah minta di periksakan sejak lama? Hanya saja karena berkendaraku yang kini mulai mengurangi tuas gas, menjadi tidak berasa? Iya, kini aku lebih perduli keamanan dan keselamatan dari pada kecepatan. Kendati keselamatan itu hanya Tuhan yang tahu, kan, Shinta?
Lha gimana tidak.
Kudamu, bagus. Do’amu telah menyelimuti semesta. Namun jika Tuhan berkehendak, terjadilah. Bukankah tetap saja akan terjadi? Yaa, begitulah hidup, ayang-ayang, wayangnya Tuhan semesta alam. Tak ada satupun di dunia ini yang aman dari ujian, cobaan dan hinaan.
Meski begitu, tak ada satupun di dunia ini juga yang akan terus terpuruk di dalamnya, begitulah Tuhan Maha Pemalu atas setiap do’a-do’a dari hamba-Nya.
Kembali menaiki bukit dan menuruni lembah, ditambah bonus dinginnya malam mulai menusuki pori-pori. Sejenak berhenti dan kembali memacu kuda untuk menembus gelap dan pekatnya kehidupan. Namun apapun itu halangan dan rintangannya tetap harus di lalui, di jalani, dan di syukuri.
Akhirnya sampai di tempat peristirahatan yang juga tak kalah hebat ceritanya, Shinta. Terima kasih telah membaca rajutan benang tulisan hidupku dan istriku satu-satunya.
Gabung dalam percakapan