Wahai Dewa
Menjemput senja untuk meraih bintang.
Di antara luka kesedihan orang-orang terpinggirkan.
Di balik jerit dan tangis anak-anak yang membutuhkan.
Wahai Dewa, bukalah mata hati kalian untuk mereka.
Dengarlah suara kami.
Suara-suara dalam sumur tua.
Suara dalam menara kehidupan.
Sayub-sayub kadang terbawa angin.
Bak kehidupan kita di tengah samudera dan badai.
Hanya di ingat ketika pemilihan tiba.
Kami adalah manusia, bukan setengah dewa.
Rintihan asa dan cita bergema seantreo nusa.
Membentuk frekuensi kebangkitan utama.
Mencekam topeng-topeng berdasi para penjilat negara.
Wahai Dewa ....
Teks asli di publikasikan pada tanggal 12 Juni 2016.
Gabung dalam percakapan