Sepatu Yang Terinjak-Injak
Sesaat lonceng pulang kerja mulai berbunyi di antara sela-sela mimpi, Kekasih. Semua orang pada keluar dari ruang-ruang dan mulai memenuhi lorong-lorong waktu. Di antara lorong tersebut, terdapat aku dan seorang teman wanita yang usianya hampir setengah dariku. Ia sedang memakai sepatu, konon setelah aku tanya, itu adalah sepatu barunya yang lidah sepatunya menjulur keluar. Iya, mirip lidah leak yang ingin menghisap darah para pendosa.
Aku katakan dengan tandas: untuk apa beli sepatu jika akhirnya di injak-injak? Ini aneh bukan? Beli sesuatu semestinya di pergunakan dengan baik, bukan di injak-injak seperti ini. Yaa, pantas saja jadi rusak. Lha wong caranya aja malah di injak-injak.
Entah apa yang dia pikirkan, ia tertawa terkekeh sambil menyebut-nyebut namaku. Lhoo? Apakah aku salah? Apa coba yang salah? Masa iya, bebeli, malah di injak-injak, coba? Tak masuk akal bukan? Iya, begitulah persamaan orang jatuh cinta. Ia sama-sama gilanya, tak bisa membedakan lagi mana fungsi dan mana subjek. Adanya hanyalah ruang cinta. Kendati demikian, apakah salah juga? Ya tidak. Karena dalam cinta tidak ada salah dan benar.
Gabung dalam percakapan