Sumber

Ilmu Dari Kuda dan Keledai

Gambar: Pedomankarya
Gambar: Pedomankarya
Di bawah langit luas, berjalanlah dua makhluk di atas tanah yang sama
Satunya lambat memikul beban, satunya melesat bagai angin badai
Keledai di pekarangan menghabiskan hari dengan berputar memutar gilingan
Kuda di medan laga menerjang panah demi kejayaan sang penguasa

Manusia memuji sang kuda, menyebutnya mulia, gagah dan perkasa
Sementara keledai dicemooh, dianggap hina, bebal dan tak berharga
Namun lihatlah esensi dari kebajikan yang diajarkan para leluhur
Apakah nilai sebuah pengabdian hanya diukur dari kecepatan dan kemasyhuran?

Keledai itu, meski langkahnya pincang dan punggungnya lecet terluka
Ia tak pernah mengeluh, setia menumbuk gandum demi mengenyangkan manusia
Ia menjalankan tugasnya tanpa menuntut penghormatan yang tinggi
Bukankah ketekunan yang sunyi itu juga bagian dari laku budi pekerti?

Lalu berpalinglah kita pada sang kuda, yang dipuja di masa mudanya
Diberi pelana emas, diberi makan rumput segar di kandang utama
Ia melompat-melompati jurang, membawa jenderal memenangkan negeri
Namun roda waktu berputar, tak ada makhluk yang abadi dalam harmoni

Jika keledai terkenal bodoh, maka kuda tak kalah tragis juga
Ia kuat, namun ketika semakin menua dan tidak kuat lagi
Ia akan di buang dan tak pernah dikenali

Kini rambut sang kuda telah memutih, kukunya retak, napasnya tersengal
Tiada lagi sorak-sorai, tiada lagi tangan raja yang membelai dengan kekal
Ia dituntun keluar dari gerbang kota, dilepas di padang gersang sendirian
Melupakan jasa-jasanya yang lalu, seolah kesetiaannya hanyalah hiasan

Wahai para penguasa yang duduk di kursi empuk kekuasaan
Ingatlah ajaran Guru Agung tentang kemanusiaan dan keadilan
Meninggalkan mereka yang telah habis tenaganya adalah bentuk cacat moral
Sebab masyarakat yang beradab dinilai dari bagaimana mereka menghargai asal

Jika yang tua dicampakkan setelah madunya habis diisap hingga kering
Maka runtuhlah tatanan hubungan, hancurlah kesetiaan yang mengalir hening
Kuda dan keledai adalah cermin bagi para abdi serta pembantu setia
Bagaimana takdir mereka di masa tua, mencerminkan kebajikan sang mulia

Konfusius berkata: "Jangan lakukan kepada orang lain, apa yang tidak ingin orang lain lakukan kepadamu"
Jika kau tak ingin dibuang saat senja, janganlah membuang tanpa perasaan
Kuda yang menua dan keledai yang lelah, keduanya berhak atas ketenangan
Sebab dalam ketulusan kerja mereka, terdapat pilar-pilar pembangunan

Mari kita renungkan di dalam hati, di bawah naungan atap rumah yang teduh
Jangan hanya melihat kegemilangan sesaat, lalu mencampakkan yang rapuh
Hargai yang setia, muliakan yang telah berjasa hingga akhir hayatnya
Agar berkah langit tetap turun dan bumi tumpah dengan kedamaian-Nya
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!