Dalam Relung Kata-Kata



Adakah sebuah alasan untukku tidak mencintaimu, Kekasih?

Aku masih mengingat senyummu.
Senyuman manis penghapus jutaan rindu.

Engkau memang tak sempurna, Kekasih. Karena sempurna adalah ketika kita bersatu.

Segala rinduku aku tuang menjadi butiran-butiran candu, Kekasih.

Izinkan aku melupakanmu, Kekasih. Satu detik saja. Karena selamanya aku akan mencintaimu.

Aku takut engkau menatapku tajam, Kekasih. Tatapanmu membuat aku mengiris-iris hatiku sendiri.

Senandung yang tak ada liriknya adalah senandungku kepadamu, Kekasih.

Aku mulai curiga mengapa engkau takut Corona, Kekasih. Jangan-jangan selama ini engkau hanya terduga manusia saja?

Jangan terlalu memikirkanku, Kekasih. Jangan pula berpikir aku tak memikirkanmu. Biarkan saja, jalani saja. Karena Tuhan selalu punya cerita.

Engkau tak dapat berkata maaf untuk kata cinta, Kekasih. Karena tak ada satupun penjahit yang mampu menjahit robekannya.

Cintamu adalah angin bagiku, Kekasih. Aku tak bisa tak mencintaimu, tapi mencintaimu adalah mendekatkanku ke dalam jurang kematianku.

Sungguh aku tak bisa mencemburu, Kekasih. Tapi jangan keheranan jika aku seperti itu, bukankah aku berkata “aku mencintaimu karena Tuhanku?” Jika Tuhanku ingin mencintaimu dengan perantara lain, apa bisaku?

Jangan bermain-main dengan cinta, Kekasih. Karena cinta tak ada rumusnya.


Teks asli di publikasikan pada tanggal 20 Maret 2020.
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa