Bahasa Tanpa Kata
Kekasih, apakah rindu itu? Apakah engkau pernah merasakannya?
Dari apakah rindu itu di ciptakan? Mengapa ia bisa mengisi sela-sela kekosongan dan kehampaan ini?
Mengapa setiap orang dapat merasakan rindu, kekasih?
Apakah engkau sengaja menanamnya agar setiap orang dapat merasakan rindu?
Tetapi mengapa rindu dan rasa lapar tak sama?
Seperti halnya rasa lapar yang dapat terjadi dan mengharuskan perut untuk di ganjalnya?
Sedangkan rindu tak demikian? Apakah rindu bahasa kalbu? Atau rindu juga bahasa kata?
Namun kenapa rindu memiliki banyak makna? Tetapi, bukankah kata-kata itu terbatas?
Jika harus dengan kata, bagaimana cara menyampaikan ketulusan rindu seekor bulbul kepada bunga narsis?
Jika rindu adalah bahasa kalbu, bagaimana cara mengungkapkannya? Sebab begitu keluar ia telah melalui proses berpikir? Bukankah pikiran selalu mengecoh?
Kekasih, tenggelamlah bersama malamku, selimutilah kesedihan ini dan rangkulah kegembiraan ini.
Teks asli di publikasikan pada tanggal 19 Maret 2021.
Gabung dalam percakapan