Padi Tumbuh Tak Berisik
Sore ini, saat peluru cinta semesta menerpa, aku pacu kuda besi tuaku memecah air mata dan merajam buana, Kekasih. Sebagai seorang ksatria, hidup adalah perjuangan yang pantang untuk di tanggalkan. Begitulah jiwa petarung yang aku warisi dari ibuku, gagah berani menyusuri setiap mimpi ngeri sendiri.
Melewati sebuah jalan Randu Garut, ku hirup bekas pembakaran cerutu mesin pembakar porselen, Kekasih. Aku ingat betul baunya, sebuah bau yang pernah aku hirup bertahun-tahun yang lalu. Tempat aku menempa ambisi dan kembali menyulam rakit kehidupan.
Pabrik tembikar tersebut bukanlah hal baru untukku. Karena kecil, aku juga pernah diberi makan asam garam hasil bakar tulang ibuku di tempat tersebut. Bahkan, sebelum aku ada, mungkin ibuku juga pernah berada di sana menjahit asa.
Tentu, perempuan atau sekalipun lelaki yang memang lahir untuk di takdirkan menjadi roda kehidupan. Jika ia mengesampingkan perjuangan hidup seseorang, ia bahkan tidak layak di sejajarkan dengan anjing, Kekasih.
Hujan tak pernah di rasa dan panas tak menjadikan darah mendidih. Inilah jiwa ibuku, jiwa yang mengalir dalam darahku. Tonggak perjuangan hidup kan ku goreskan menjadi tinta sejarah baru, untuk menulis takdir kehidupanku sendiri, Kekasih.
Bagi seorang lelaki, jika tak bisa menghargai perjuangan seseorang dan bagaimana ia mendapatkan. Sejujurnya ia bukanlah lelaki, Kekasih. Ia adalah lelucon yang selalu merasa menang atas segala hal dan ingin di puji layaknya seorang pemberani. Dalam sebuah peribahasa legendaris berbunyi: "Tong Kosong Nyaring Bunyinya."
Padi Tumbuh Tak Berisik — Tan Malaka.

Gabung dalam percakapan