Rahvayana: Remang Senja Dalam Sunyi Tanpa Bunyi
Ketika senja mulai melebarkan sayap dan atap dunia beranjak menutup hijabnya, Shinta. Aku juga mulai memacu kuda besiku mengarungi belantara, meski itu bukanlah Hutan Dandaka, tempat penuh nestapa dan hukuman para adharma.
Remang menghilang berganti sunyi, kendati tiada sepi yang tanpa bunyi. Bukankah begitulah, kerinduan itu, Shinta? Nyatanya bahwa di setiap kesepiannya seseorang, sebenarnya ia sedang menyelisik, menyelinap dari bilik-bilik kalpana loka.
Ooh, Dewi Shinta.
Rembulan malam bersinar terang anggun di angkasa, bukankah begitulah wajah Sang Dewi? Mungkin, namamu dan nama setiap manusia yang oleh orang tuanya di sematkan nama "Dewi" adalah harapan kehidupan. Supaya ia tetap terang benderang dalam kegelapan, dalam kesendirian atau, dalam setiap kesepian apapun. Shinta, keluarlah dan lihatlah rembulan malam ini. Meski ia belum sempurna, namun eloknya meneduhkan jiwa.
Selain kabut dan dingin yang mampu menusuk sampai ke tulang sumsum, ternyata masih ada satu hal lagi yang dapat melumpuhkan para pecinta, Shinta. Itu adalah kerinduan. Jika kasih atau sayang tercipta saat Tuhan sedang jatuh cinta, mungkin kerinduan tercipta ketika Tuhan murka. Mencintai dan merindu adalah dua hal yang juga sangat menyakitkan, lalu bagaimana para pendahulu kita melewati setiap ngarai hidup ini?
Tapi, tak apa.
Kehidupan akan terus berjalan dan berputar, artinya engkau tidak boleh menyerah. Bukan engkau, tetapi kita semua. Iya, kita semua tidak boleh menyerah dalam menyusuri setiap jalan dalam kehidupan ini. Karena faktanya, orang kaya atau miskin, berjabatan atau polos, dst, dll. Percayalah, mereka juga sedang hidup dalam kengeriannya masing-masing. Jangan bersedih, sebab setiap kesedihanmu mempunyai teman. Tiap teman yang engkau lihat ceria, sebenarnya ia juga sedang berusaha menyembunyikan kesedihannya. Maka, janganlah bersedih supaya engkau tak menambah beban baginya karena melihatmu sendu.

Gabung dalam percakapan