Ponokawan: Sanepo-Sanepo Klasik
Beberapa hal yang sifatnya budaya itu terkadang masih di tentang oleh temen-temen dari golongan tertentu, Reng. Misalnya ya seorang kiai yang jogo kali, mereka menentang bahwa hal tersebut bertentangan dengan ajaran utama (wajib). Bagaimana kalau konteks pemahaman itu kita ubah menjadi begini, pada sumber kitab utama saja di katakan bahwa Tuhan menumbuhkan tanaman dan mengembangbiakan hewan dengan air. Lalu bagaimana kalau kita anggap air adalah sumber kehidupan? Pada titik poin di sini, jogo kali kita artikan sebagai menjaga sumber kehidupan agar terus mengalir dan memastikan tidak ada hambatan? Seperti menjaga sawah dari burung-burung, yang juga kadang di tinggal makan, leyeh-leyeh, ngopi, ngudud, dll? Atau cerita sang guru yang menunjuk pohon aren lalu jadi emas? Emas ini seperti harta karun, Reng. Kalau emas itu tertimbun, kalau pohon aren bisa tumbuh subur di manapun, khusus tropis, yah. Bisa berdiri tegak di tebing, semak belukar, dll. Di desa-desa pohon aren ini berguna semuanya mulai dari daun sampai batangnya, bahkan menurut penelitian pohon ini juga berkontribusi dalam menyimpan cadangan air di dalam bebas. Kalau kamu punya emas, kamu jual dan kamu dapat uang. Dengan pohon aren yang dari daun sampai batangnya bermanfaat apakah secara ekonomi juga tidak sama dengan emas?
Teks asli di publikasikan pada tanggal 11 November 2021.
Gabung dalam percakapan