Sitayana: Kekacauan Tanpa Cinta
Shinta, akhir-akhir ini kobaran api bangsamu menyala di mana-mana. Pada satu tempat asapnya belum menghilang, di tempat lain percikan baru mulai muncul. Sungguh mengerikan jika terus seperti ini, karena cinta sudah tidak hadir dalam benak setiap jiwa. Aku ulangi lagi, iya, benak setiap jiwa. Termasuk benak-benak setiap orang yang merasa tersakiti, di rugikan, dll, dst.
Cinta adalah fondasi kehidupan, Shinta. Apabila cinta sudah tidak hadir di antara kita, itu bagaikan sebuah hubungan antara sejoli yang kehilangan arah tujuannya. Layaknya sejoli, amarah selayaknya di redam dengan kasih dan sayang, bukan di benturkan lagi dengan hal serupa. Sungguh, Tuhan menghadirkan cinta kepada setiap manusia merupakan sebaik-baiknya pengajaran dan pelajaran. Karena cinta tak berbahasa, tak berbangsa dan tak beragama, atau batasan-batasan lain yang mengkerdilkan makna cinta. Cinta itu suci, cinta itu murni. Sebabnya tidak dapat di klaim hanya milik seorang atau sekelompok saja. Cinta di miliki siapa saja bagi yang mau mengenalnya.
Jika bara api terus menyala, maka petasan akan ikut bergema. Kemenangan adalah ilusi, karena ia hanyalah pintu gerbang baru yang tengah terbuka. Sejarah selalu mencatat bahwa kemenangan sakadar tombak baru yang menggantikan tombak lama. Seyogianya tetap saja sama, sebab pada dasarnya manusia adalah serigala bagi manusia lainnya, Homo Homini Lupus — Plautus.
Waspadalah di manapun, kapanpun engkau berada untuk saat ini. Dalam kekacauan yang tak terdapat cinta lagi, setiap hal akan bergerak tak terkendali dan membabi-buta.

Gabung dalam percakapan