Sumber

Normalisasi Ndas Mumet Dalam Realitas Edan



Selain api yang berkobar di mana-mana. Akhir ini turut serta ramai potret ular ganas yang terkapar di rumah salah seorang tokoh. Meski ya, zaman sekarang itu zaman edan — Ranggawarsita. Beda antara kepalsuan dan fakta itu sudah sangat tipis. Jangankan soal ular ganas, lha wong sekarang saja seseorang dapat salin dan tempel gambar cukup dengan "tulis, menulis" dengan tingkat kepresisian mencapai 90% atau lebih.

Selain ular ganas, santer isu juga bahwa api ini timbul akibat menyenggol salah seorang dedengkot perairan yang legendaris — tetapi ini bukan tentang air. Konon, orang ini tak pernah tersentuh sejak beberapa dekade. Serta masih banyak otak-atik-matuk-gatuk lain tentang dalang yang menghidupkan kobaran api ini, tak terkecuali ya Geng Oslo. Atau, gimana kalau ternyata cuma ganti gerbong saja? Lha wong biasanya ya demikian.

Mau apapun ceritanya, tetap sama saja. Bahwa semua itu berawal dari wong mumet. Iya, mumet. Di dunia ini faktanya tidak ada orang yang tidak mumet, siapapun, kapanpun itu. Konon, dahulu terdapat seorang pertapa yang setiap hari selalu bermeditasi, itu bukan karena dia sudah sempurna dalam olah rasa dan olah jiwa. Tetapi karena dia sebenarnya juga masih mumet, masih belajar lebih baik, lebih baik lagi, baik lagi, semakin baik, dst.

Apalagi orang yang masih kadonyan. Melihat gemerlap dunia ini yang sangat-sangat wah. Nihil satis — tidak ada yang cukup, frasa Latin yang menggambarkan hasrat manusia tidak pernah terpuaskan. Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta, maka ia pasti akan menginginkan lembah yang ketiga. — H.R Bukhari & Muslim.

Gimana?
Jadi kalau ndasmu mumet, itu biasa, sudah gaweane manusia membuat kepalanya sendiri mumet. Yaa, normal saja. Jangankan kita-kita, yang jelas kelasnya kelas Sudra: petani, pekerja, penyedia jasa, tenaga dan wong cilik. Lha wong itu yang di atas saja juga mumet buat nambah lagi, ntah nambah kue, nambah minum, nambah makan, nambah cemilan — tetapi ya ini bukan soal makanan-minuman.
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!