Air Mata Manalagi Yang Akan Mengantarkan Kangen & Rinduku Kepadamu Selain Hujan Dari Langit
Selamat malam, Kekasih, pujaan hatiku. Air mata manalagi yang akan mengantarkan kangen dan rinduku kepadamu selain hujan dari langit, Kekasih?
Apakah engkau sudah makan di sana? Apakah sudah minum di sana? Bagaimana keadaanmu di sana? Apakah engkau juga sedang merindukanku? Apakah engkau juga sedang kangen padaku? Bukankah engkau pernah berjanji akan menemuiku dalam do'a-do'amu, Kekasih?
Kekasih, betapa engkau sangat rendah hati, yang bahkan meluangkan waktu untuk menemuiku dalam lantunan do'amu? Bukankah wanita tidak perlu berkata-kata, Kekasih? Karena wanita adalah jelmaan kata-kata?
Duhai pujaanku, yang mencintaiku tanpa tahu siapakah aku ini. Engkau yang tanpa keraguan menerimaku. Engkau yang senantiasa akan mengajariku berjalan ke hadapan Tuhan meski hidupku berlumuran darah. Engkau yang menemaniku menghadap kepada Tuhan. Engkau yang cantik ini, anggun ini, indah ini. Ooh, Kekasih, engkau yang menyayangiku tanpa tapi dan karena ini. Air mata mana pula yang akan aku tangisi ketika mengingatmu?
Selamat malam, Kekasihku.
Maafkan aku atas semua ketidakcakapanku dan terima kasih untuk setiap hal serta keyakinanmu telah bersedia menjadi sahabat dalam sisa kehidupanku.
Bahagia di sana, Cantikku, belahan jiwaku, Mifimku.

Gabung dalam percakapan