Suntingan Surat Pagi Rinduku
![]() |
| Rembulan di pagi hari. Sumber. |
Menatapmu pagi buta yang nun jauh di angkasa, takut menjadikanmu menyadari dan berkata: “Aku tidak ingin terlalu banyak berkirim pesan denganmu, atau jangan terlalu sering engkau menatapku.” lalu suara itu memenuhi jagat raya. Akan aku bawa ke mana lagi kangen dan rinduku jika jagat raya ini tahu, bahwa aku merindukanmu, Kekasih?
Meskipun terkadang aku juga merasa aneh. Mengapa Tuhan menumbuhkan kangen padaku, seperti menumbuhkan padi di tanah yang tandus? Terdengar mustahil, tetapi bagi Tuhan, apa yang tidak mungkin? Akhirnya aku menyerah dengan kangenku padamu. Kan ku ikuti perginya kangenku mengalir, meski ternyata itu adalah air mata yang mengaliri pipiku sendiri, Kekasih. Sebab menemuimu, memilikimu adalah hal yang tidak masuk akal bagi seekor Pungguk liar. Ini adalah kesadaran, ingatan, yang akan terus aku bawa.
Sastra Melayu klasik berbunyi:
“Seperti Pungguk merindukan bulan.”¹
Seperti saat Tuhan mencipta cacing tanah, mungkin orang-orang mengira itu adalah hewan yang sia-sia, tetapi dari padanya, tanah juga menjadi gembur. Apakah sama, jika aku berpikiran bahwa Tuhan menumbuhkan kangenku padamu bukan tanpa alasan dan bukan tanpa tujuan? Bisa jadi, Dia sedang menyirami hatiku supaya tidak kaku dan mati.
“.... Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka. ....”²
Rerumputan akan tumbuh beserta segenap organisme. Meski suatu saat nanti akan hancur kembali, dari organisme inilah Tuhan akan mengembalikan harapan hidup. Bukankah Dia bahkan bersabda:
“Apakah manusia mengira Kami tidak akan mengumpulkan tulang-tulangnya? Bahkan Kami mampu menyusun jari jemarinya dengan sempurna?”³
Kini, dunia medis mempelajari tulang sebagai sumber DNA yang paling baik⁴ dan menjadikan sidik jari adalah alat biometrik yang unik⁵.
Barangkali, cara inilah juga yang di pikirkan Tiongkok ketika menyulap gurun pasir menjadi sabana. Ia meletakkan rerumputan kering di bawah tanah-tanah yang telah mati dan menjadi padang gurun. Apakah Tiongkok sedang belajar bahwa akan ada sebab-akibat, keterkaitan-keterikatan?⁶
Kekasih, nyatanya, Rembulan di langit juga di tatap oleh banyak orang pada saat yang sama. Orang-orang tersebut juga menyertakan namamu dalam munajatnya, memberikan salam kepadamu. Lalu, apa yang bisa dilakukan oleh seekor Pungguk liar? Selain hanya menatapmu dalam hening dan meneriakkan namamu ditengah sunyinya malam?
Menikmati malam, iya, Rembulan adalah salah satu lukisan Tuhan yang indah. Tampaknya, terdapat rahasia lain tentang Rembulan yang belum diketahui, itu mengapa mungkin bahkan Kanjeng Nabi Muhammad di ceritakan membelah bulan⁷. Tidakkah bisa saja untuk membelah Matahari? Menarik bintang-bintang, membentuk rasi bintang menjadi namanya? Tentu, barangkali Rembulan memang memiliki makna dan arti Illahi yang lain. Seperti aku menamaimu dalam kedalaman kalbuku.
Terdengar puitis, melankolis dan nyata, tetapi ini bukan puisi atau sastra. Ini hanyalah guratan papan ketik pagi dari orang yang tidak tahu apa-apa soal cara kerja semesta, Kekasih.
Saat terakhir aku menutup tulisan ini, aku sedang merindukanmu lalu mengirimkan Al Fatihah⁸ terbaikku untukmu. Karena hanya surat inilah yang sangat indah untuk mengirimkan rinduku padamu lebih dari segala sesuatu dan sebab aku menjadi lelaki yang paling bodoh serta tak punya apapun lagi yang bisa diberikan kepadamu.
Pun, saat engkau membaca ini, aku pastikan, aku sedang merindukanmu. Bukan salahmu andaikan engkau tak merindukanku, karena memang Tuhan tak mengizinkannya. Tuhan sedang menguji cintaku pada-Nya; apakah aku akan pergi dari-Nya karena sakit hatiku atau aku akan tetap berjalan di jalan-Nya meski berurai air mata, luka, dan derita. Jika rinduku menjadi air mata, biarkan ia kan membasahi tanah-tanah nang kering dan menumbuhkan bunga-bunga yang indah. Bila hanya dengan air mata-lah aku dapat bederma sepanjang hayatku sekaligus bukti baktiku kepada Tuhanku, Kekasih. Selalu tersenyumlah ....

Gabung dalam percakapan