Sitayana: Pejalan Dari Timur
Heuheuheu, Sinta.
Aku pernah bertanya-tanya, mengapa orang-orang timur mengajarkan untuk menerima segala, apapun yang menimpa diri kita dari sesuatu yang di lakukan orang lain? Mengapa kita tidak boleh membalas perlakuan mereka?
Dari setiap detik aku menyusuri, dari lini ke lini, dari tingkat ke tingkat. Lalu aku berhenti, ketika aku tahu bahwa orang-orang timur adalah orang yang paling percaya bahwa Dzat Yang Maha Tinggi ada. Kemudian Dzat tersebut di kenal memiliki keadilan yang sempurna dan paripurna.
Apakah itu keadilan?
Keadilan adalah ketika pelaku perlakuan dan penerima perlakuan sama-sama memiliki kesempatan untuk di kabulkan permohonannya. Begitu mengerikan!
Perlakuan yang kita terima dan kita membalasnya dengan sesuatu yang sama, atau bahkan lebih lagi, di saat yang sama pula orang lain juga berada dalam kondisi yang sama dengan kita sebelumnya. Bagaimana jika akhirnya pelaku perlakuan malah berhenti membalasnya dan dia memohon kepada Dzat Yang Maha Tinggi tersebut? Renungkan saja dalam kesedihan hatimu, Sinta. Namun, kesedihan dan bahagia letaknya di luar ke-aku-an-mu, engkau yang sesungguhnya adalah engkau yang tak dapat merasakan sedih ketika di olok-olok dan biasa saja ketika keberuntungan berpihak kepadamu.
~ Sastrajendra
Rahayu.
Teks asli di publikasikan pada tanggal 19 Juni 2022.

Gabung dalam percakapan