Sumber

PUJAAN KANG RINEKSA



Piye?
Wes nemu solusi, to?
Yo wes, ra popo, jalani wae, tapi karo selalu ingat dawuhe Bapakku, Kakang Semar. Eh, Bapak Semar: bukan mengejar seseorang yang terus berlari menjauh. Hidup tidak selucu itu, kalau kata Kerabat Kotak yang lagi ceneng-cenengan benang iku: Pelan-Pelan Saja. Sebuah lagu yang konon juga tak boleh di bawakan lagi.

Ya hidup memang begitu.
Ada pertemuan, ada perjuangan, ada perselisihan, ada pertentangan, ada yang mencintai, ada yang lari, dll, dst. Ojo sedih, lah, boloku kok sedih ki piye? Jare pendekar. Eh, Lonewolf. Masih banyak hal yang harus di tapaki, harus di pikirkan, harus di jalani. Jangan berhenti di sini, apalagi menunggu. Wes tah. Dadah-dadah wae, kalau memang iya, taun ngarep mesti ketemu ning Jakarta. Percoyono.

“Oh, Rembulan. Seperti namamu yang masih menjadi rahasia kalbuku. Bahwa mendapatkanmu adalah mimpi bagiku. Oh, Tuhan, sadarkanlah jiwa ini, pikiran ini dari kegilaan halusinasi ....”
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!