Sumber

Rembulan: Ohayo, Tsuki & Jejak Pagi



Ohayo gozaimasu, Tsuki.
Lebih dari sepuluh tahun yang lalu pula aku pernah belajar berbahasa Jepang, Rembulan. Pertama, dulu aku sering menonton serial Jepang seperti Power Rangers, Ultraman, Kamen Rider, dst. Selain itu, gim-gim yang pernah aku mainkan di masa kecil kebanyakan juga di awali dengan bahasa Jepang. Loh, tetapi kenapa bisa? Iya, karena terbiasa dan menghafalkan tata letaknya saja, bukan berarti paham. Hihihihi.

Oiya, bukankah negara kita juga pernah di datangi oleh mereka yang mengaku saudara tua, itu? Dan, bukankah proklamator kita, juga punya istri orang dari negeri Sakura ini? Konon, banyak yang berkata bahwa ini sebenarnya jebakan untuk melemahkan Putra Sang Fajar. Yaa, itu mungkin mirip aku, ya, yang kadang tidak terasa menitikan air mata saat engkau mengingatkanku untuk menghadap pada Sang Hyang. Ternyata, aku lemah juga di hadapanmu, Rembulan.

Banyak hal yang terkadang menjadi lupa dalam kehidupanku ini, termasuk, foto yang aku jepret beberapa hari yang lalu. Wah, engkau sudah melihatnya, bukan? Aku yang sedang asyik berjalan itu tetiba di sambut oleh sebuah gunung yang gagah dan megah di hadapanku. Ehm, aku sebenarnya salah satu pengagum semesta, Rembulan. Sebab semesta ini unik, cantik, menarik. Sepertimu yang menjadi simbolisme Jagat Alit. 

Malamnya, aku iseng membuka sebuah aplikasi dari Simbah Gugel yang kini API-nya di gunakan di mana-mana. 
Hah!? Aku sedikit terkejut. Gunung itu ternyata bernama Slamet. Tentunya, engkau tidak asing denganku yang menganggap segala peristiwa itu bukan terjadi kebetulan, termasuk perjumpaanku denganmu, Rembulan. Bukankah aku sering berkata seperti ini?

Ya, dengan apalagi aku mesra dengan Tuhan kalau bukan dari hal-hal kecil seperti ini? Aku kan bukan siapa-siapa, Rembulan.

Slamet dalam bahasa Jawa ini, bisa dibartikan sebagai selamat, aman, atau sentosa. Tetapi, kodenya, apakah ini cara Tuhan menyambutku? Atau ada makna lain di baliknya? Bukankah setiap hal di dunia ini selalu memiliki hijab, Rembulan?

Nah, karena sebenarnya, aku juga masih punya Simbah yang bernama Slamet. Apakah ini kode yang mengarah ke sana? Tuhan sedang menyentilku? Mengingatkanku? Rembulan, menurutmu bagaimana?
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!