Sumber

Rembulan: Esensi Kehidupan



Duhai Rembulan, mungkin engkau belum tahu bahwa aku juga salah satu orang yang sering curiga ke Tuhan. Contohnya bisa di baca di sini atau di situ.

Kalau katamu aku itu aneh, ya begitulah aku. Ya random, ya suka cerita ini dan itu, ya nerimoan kalau kata teman sebelah kerjaku, ya apa adanya kalau kata pamanku, dst. Termasuk ya, suka curiga ke Tuhan. Coba, berapa orang yang sempat engkau temui dan punya rasa curiga ke Tuhan sepertiku?

Akhir ini setelah aku lewati beberapa minggu, aku juga merasa curiga ke Tuhan. Ketika rinduku padamu menggebu, mengapa Dia selalu mempertemukanku denganmu? Apakah ini paksaan Tuhan karena aku tak pernah merealisasikan sisi action-ku kepadamu? Atau ini cara Tuhan memperlihatkan kepadamu bahwa aku ini sebenarnya benar-benar sampah kalau Tuhan tak membersamaiku setiap waktu?

Misalkan menurutmu, bagaimana, Rembulan, tentang perjumpaan itu? Atau engkau punya esensi berpikir lain, yang lebih menggugah kemesraan kita pada Tuhan? Bukankah seperti namamu, bahwa Tuhan juga memberikan karunia kepada setiap orang untuk berpikir?

Waah, pantas saja aku selalu kangen padamu. Ternyata engkau seorang dewi, mengapa aku baru sadar, ya? Atau karena selama ini aku selalu memuji dan fokus tentang engkau sebagai manifestasi nyanyian Tuhan?

Oiya, aku katakan dengan tandas kembali, bahwa aku sering memakai diksi Tuhan atau semacamnya, ini bukan berarti aku orang baik-baik. Aku itu sejelek-jeleknya orang, mung, aku sadar, kalau bukan kepada Tuhan tempat kita kembali sekalipun bajingan sepertiku. Ya, kepada siapa lagi, Rembulan? Bukankah hidup esensinya untuk merubah setiap kejadian menjadi kenangan yang indah? Supaya kita selalu mesra kepada Tuhan dan Kanjeng Nabi?
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!