Sumber

Ketika Sinar Rembulan Menerangi Remang



Ketika sinar rembulan menerangi remang dedaunan malam
Kunang-kunang berterbangan
Ada satu sorot mata yang juga melihatnya
Betapa mata kijangnya lincah menari-nari

Sepoi angin memecah gelombang rambut hitamnya
Seperti kilapan buah persik matang yang membuat bibir tersenyum
Bersuka cita, bergembira, berputar layaknya rindu mengikat segala kangen
Lalu menggendongnya dalam temu yang abadi

Apakah memang seperti itu adanya?
Ataukah semua hanyalah mimpi?
Seperti hari yang telah berlalu, terlalu tipis untuk membedakan
Namun, jika keduanya sama, siapakah yang membuatnya, memupuknya, bahkan membiarkan kangen itu menggerogoti hati?

Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!