Sumber

Ruang Kehidupan Dan Keindahannya



Yaa, semua orang aku kancani, Gong. Seperti yang sudah aku buktikan ke diriku sendiri dan udah pernah aku ceritakan ke kamu: belasan tahun aku berteman ama perokok ya tetap tidak menjadikan aku sebagai perokok.

Aslinya, ada banyak lagi, misalnya yang lain: aku berteman ama seniman tato atau penikmat tato. Juga tidak menjadikan tubuhku ada tatonya. Ama ahli omben, adaa. Tetapi tidak menjadikan aku menjadi tukang omben jua.

Ada banyak ruang kehidupan yang aku ikut menyelam bersama mereka, seperti pesan salah satu guruku: bertemanlah dengan siapapun seperti lautan yang menampung segala sungai, berdirilah bersama orang-orang yang dikucilkan, bantulah orang-orang yang membutuhkan, dst, dll. Yaa, meskipun faktanya aku ndak bisa 100% seperti kata guruku, paling tidak, aku sudah mencoba. Meski terkadang kedatanganku malahan menjadi beban untuk mereka di sebagian mata, dikira mereka menjadi langit gelapku, Bagong. 

Tetapi tak apa, di sinilah aku menemukan hikmah. Dari guru yang sama pula ia mengajar untuk tidak menjadi orang yang haus akan kekuasaan, kehormatan, jabatan, dst. Ternyata, menjadi biasa saja itu enak, easy-going, tidak punya banyak beban. Ada pula, bagi sebagian mata yang melihat bahwa langit gelap adalah mendung, mereka lupa jika dari air-lah segala kehidupan tumbuh. Jika mereka melihat gelap sebagai kengerian, mungkin mereka juga lupa bahwa setelah malam berlalu terbitlah pagi yang membawa harapan baru.

Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!