Sumber

Kenang-Kenangan Terkenang



Pagi tadi, Shinta. Bibiku telepon, ia mengabarkan bahwa aku mendapat undangan pernikahan seorang teman. Waaah, iya, hampir lupa kalau masa seneng-senenge lanang lan wedok dalam khazanah kebudayaan Jawa itu sudah aku lewati.

Seperti komposan-komposan lamaku, bahwa setiap komposanku bisa saja itu adalah pelajaran dan pengajaran dari orang-orang terdekatku — sekaligus dalam kondisi ini aku meyakini sebagai cara Tuhan berinteraksi denganku. Yaa, meski masih sama saja, aku yang engkau kenal dulu, berantakan dan amburadul hidupnya.

Aku banyak belajar dengan temanku yang satu ini, meski ia tak pernah mengatakan apapun atau menyuruhku untuk menirunya. Tetapi bahkan, inilah ilmu tingkat tinggi yang juga di ajarkan oleh Sang Buddha: Aku tidak mengajar untuk menjadikanmu sebagai murid-Ku ....
Di berbagai kesempatan pula aku selalu mengatakan sesuatu yang begitu klasik, bahwa setiap orang adalah guru bagi seseorang yang lain.

Kenalkan, temanku bernama Danang. Aku sering melihatnya ia taat dalam beribadah, bahkan ia selalu menyesali waktu yang telah terlambat. Karena kedekatan ini, aku juga melihatnya ia tampak asyik dalam mengerjakan sunah-sunah. Hal yang kemudian aku ikuti dan aku merasa menemukan kembali esensi hidup. Ini seperti rokok, tentu aku tidak merokok, tetapi bukan berarti aku tidak pernah merokok. Aku juga bisa menebak-nebak jenis rokok yang enak, tetapi sayangnya aku tak pernah bisa menemukan esensi "mengapa aku harus merokok?"
Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!