Keributan
Kala itu, aku sempat terjungkal yang menyebabkan keributan tersebut padam sejenak. Padahal, aku sedang melihat di ujung lain terdapat orang-orang yang sedang terkekeh, ini mengapa aku menjadi terjatuh. Lantaran aku lebih fokus menumpuk tanya pada mereka. Sembari meringis memegang bekas luka memarku, aku dengarkan dengan saksama. Mengapa malahan mereka bisa tertawa sedang di sudut tempat lain terjadi kekacauan?
Ternyata.
Ya, mereka yang tertawa itu sedang mentertawakan keributan tersebut. Sayup-sayup ku dengar mereka berkata: ...biasanya saja berkata, aku beli barang di marketplace. Padahal seharusnya lokapasar. Ironisnya media juga menambah kayu bakar, sedangkan mereka di laman resminya menggunakan kata email, sepatutnya surel... Banyak, lah, Truk. Tanpa aku sadar, memarku juga pulih.
Ini kan yang pernah aku cerita ke kamu, kan?
Kalau kamu lupa, cerita soal slow down di pinggiran jalan itu di mana aku merasa sedang di luar negeri? Padahal, kenyataannya, juga lebih banyak akamsi di banding turis mancanegara misalnya. Kamu malahan berkata selumbari terdapat obrolan daring yang meminta tautan unduhan realitas virtual, sebuah permainan yang sedang di gemari warganet.

Gabung dalam percakapan