Ki Demang & Murid-muridnya #27
Pedoman.
Pertemuan selanjutnya di sekolah adalah mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang mana di pertemuan ini siswa dan siswi akan di ajak mengenali perangkat lunak dan perangkat keras komputer.
Malam itu budi, made, ayu dan putri terlihat sudah mempelajari buku yang di berikan kepada siswa dan siswi untuk pembahasan keesokan harinya. Buku tersebut berjudul "Pedoman perakitan dan penggunaan komputer". Mereka terlihat asyik berdiskusi dan membayangkan bagaimana mereka dapat merakit komputer secara sederhana sekaligus mengoperasikannya.
Bagi mereka ini adalah sebuah pengenalan, karena sebelumnya mereka sama sekali tidak pernah mengenali teknologi semacam ini di tempatnya. "Kira-kira besok kita akan di ajarkan apa dulu ya, apakah pembahasan saja atau sekaligus praktek?" Tanya budi sambil mencoret-coret bukunya yang terlihat sebuah runtutan perakitan komputer.
"Bayanganku besok kita akan membahasnya terlebih dahulu di lanjutkan praktek, bud" Jawab ayu yang tampak menyisir rambutnya. "Sama, aku juga. Berarti kita ada waktu untuk mematangkan pembelajaran malam ini kan?" Jawab putri.
"Kalau menurutku besok kita akan membahas sekaligus praktek, mengingat jam mata pelajaran itu sangat singkat. Apalagi bila semua siswa dan siswi tampak bersemangat dan bersenang-senang dengan mata pelajarannya, itu akan lebih singkat lagi malah." Jelas made.
Budi yang masih mencoret-coret buku membalasnya dengan manggut-manggut saja tanpa melihat wajah teman-temannya. "Jika besok kita akan membahasnya terlebih dahulu juga tidak masalah, semoga saja kelompok kita dapat giliran terakhir. Agar dapat di lanjutkan pertemuan selanjutnya haha" Kompak mereka tertawa mendengar made melanjutkan penjelasannya.
"Aku masih banyak yang bingung juga bila memahami bagian-bagiannya, itupun belum di tambah pengoperasiannya. Kita kan juga di suruh menjelaskan?" Keluh budi sambil mengerutkan dahi. "Wah, ternyata dari tadi budi diam-diam kebingungan" Ayu menimpalinya.
"Tidak masalah, pengoperasian akan kita lemparkan ke made. Setuju semua kan? Wkwk" Putri menjawab lantang, walau sebetulnya ia mencoba memposisikan diri saja.
"Boleh saja, tetapi jika kelompok kita berbagi tugas artinya di antara kita juga siap untuk melewatkan pengertian setiap detailnya dong?" Made mencoba mengingatkan secara halus kepada teman-teman mereka agar bersama-sama dalam memahami pedomannya tersebut. "Hmmm..." Putri terlihat cemberut.
"Jangan cemberut dulu put, boleh jadi nanti kita cuma menjelaskan apa yang sudah kita pahami saja. Tidak semua bagian-bagian itu." Jawab made kembali untuk membujuk putri.
Terlihat budi memperhatikan percakapan kedua temannya tersebut, lalu berkata "Yah sudah gini saja, besok kita lakukan bersama-sama. Saling membantu dan menjelaskan, kita tidak perlu berbagi tugas lagi, bagaimana teman-teman?"
"Ok..." Jawab ayu singkat.
"Jadi yang kamu bingungkan tadi bagian mana bud?" Tanya made sambil berjalan ke tempat duduk budi. "Yang ini..." Jawab budi sambil menunjuk buku punyanya.
"Kamu tidak tanya ke aku made?" Ayu menyela. "Cie...cie..ayu" Ejek putri yang kemudian bergumam kepada made.
"Jangan-jangan kita dari tadi cuma asyik ngobrol saja tanpa memahaminya" Selidik budi yang seolah kaget dengan jawaban ayu.
"Tanya aku bud?" Tukas ayu sembari menggayuh buku pedomannya. "Jadi gini teman-teman, kenapa kita harus membahas ini? Dan mempraktekkannya? Kita kan tidak mengetahui jika besar nanti akan bekerja di bidang informasi dan komunikasi atau tidak? Lalu kenapa harus takut? Bukannya kita sudah mengetahui punya bakat masing-masing?" Sedikit nada tinggi dari ayu yang tidak seperti biasanya.
"Mungkin hanya untuk bekal saja" Jawab putri dengan menyenggol budi. "Tumben sekali kamu?" Imbuh budi. Made terlihat tertawa mendengar jawaban karibnya itu.
"Kita juga mengetahui kan? Bahwasannya ilmu tidak harus untuk kita? Bisa juga untuk orang-orang dekat kita atau juga untuk alam?" Budi menambahkan. "Betul sekali bud, aku setuju" Made menjawab bercampur dengan tawanya.
"Ehhm...ini kan pedoman ya? Pedoman berarti sesuatu untuk menunjukan arah atau mata angin. Atau bisa juga sekumpulan ketentuan dasar yang memberi arah bagaimana sesuatu di lakukan. Ya seperti buku ini." Lanjut made kemudian dan menunjuk-nunjuk buku mililiknya. Dengan seksama ayu mencoba memahami jawaban-jawaban dari temannya. "Kita kan juga sudah punya buku pedoman masing-masing." Tukas putri.
"Iya betul itu kata putri, aku punya Weda. Budi punya Tripitaka, putri punya Al Kitab, dan ayu sendiri punya Qur'an kan?" Made manambahkan. "Hmm, apakah kitab-kitab itu sama dengan buku pedoman ini?" Tanya ayu.
"Bisa jadi ayu, kita dapat berpedoman pada kitab kita masing-masing. Itu tidak tentu juga bahwa kesemuanya dapat kita pahami langsung dari kitab-kitab itu tadi. Sebagai contoh ya pedoman buku ini hanya mengajarkan kita untuk merakit dan mengoperasikan secara sederhana, bagaimana jika kita nanti dapat membuka aplikasi-aplikasi lain baik yang sudah di sediakan oleh pabriknya dan yang belum, seperti ini" Budi menjelaskan dan menunjukan sebuah aplikasi bernama Office. Dalam buku pedoman itu hanya di jelaskan secara singkat mengenai Office, macamnya, dan kegunaannya, bukan secara rinci.
"Iya...iya, aku mengerti, berarti itu kenapa aku selalu di tuntut mengaji berbagai macam kitab ya. Sebagai contoh Fiqh, Hadits, dll Jadi pasti masing-masing juga punya kitab pendukung juga ya?" Jawab ayu. "Pasti itu ayu, yang mana ilmu-ilmu itu akan berguna bagi semesta kan?" Made menambahkan. "Semesta termasuk kita di dalamnya ya, saling menyayangi dan mencintai juga menolong" Kata putri. "Iya betul, put. Kita semua sedang berproses. Jadi ilmu dalam setiap pedoman itu memang penting. Seperti yang sudah aku katakan tadi kan? Kitapun belajar merakit komputer dan mengoperasikan tanpa buku pedoman ini juga bisa? Akan tetapi kita tidak dengan benar-benar memahaminya secara runtut, bukankah begitu?" Tukas budi.
"Iya juga sih bud, tentunya kalau orang-orang yang benar memahaminya akan selalu rendah hati kan?" Ayu menjawabnya. "Iya, seperti itulah ayu. Kalau menurutku ini tidak akan pernah terbatas. Hanya saja pemikiran kita yang terkadang sengaja membatasi atau memang sudah terbatas pada tingkat tertentu. Jadi seolah-olah bahwa kita sudah dapat memahami semuanya, padahal belum." Lanjut budi.
"Contohnya bud?" Tanya putri. "Sebagai contoh ya kalau kita sudah benar-benar memahami buku pedoman ini, bukan berarti kita sudah berada di puncak. Akan tetapi itu hanya beberapa persen saja dari puncaknya." Jawab budi.
"Setuju juga dengan budi. Buku pedoman ini juga menyimpan banyak tanda tanya sebetulnya. Ya sebagai contoh Office itu saja lah. Jika kita berpikir Office, maka kita akan berpikir juga semisal bagaimana membuatnya, apa saja macannya, pengertiannya dll. Aku kira itu akan membutuhkan pedoman yang lebih tebal dari buku ini." Jelas made.
Tidak terasa waktu semakin malam dan mereka bergegas mengemasi alat tulis mereka.
Bisa saja Kitab-kitab yang kita ketahui saat ini adalah bagian dari pedoman untuk menjalani kehidupan kita. Bukan hanya sebuah bacaan yang mengandung sastra akan tetapi sebuah tujuan dan makna hidup seutuhnya. Yang terkadang kita hanya mampu membacanya tanpa mengetahui makna sesungguhnya dari kata-kata yang kita baca. Namun tidak ada yang salah jika kita hanya bisa membacanya, bisa memahami beberapa kata saja, dapat mengerti sedikit tujuannya. Karena sesungguhnya yang paling mengerti itu semua adalah Sang pembuat karya. Yang kita lakukan adalah mencoba membaca, memahami, dan mengerti semampu kita. Tuhan tidak pernah menuntut lebih dari itu.
Gabung dalam percakapan