Sumber

Ki Demang & Murid-muridnya #24

Ilmu Jawa

"Ki, kenapa sih kalau ilmu2, karya2 yang berbasis Jawa atau Nusantara mesti di anggap sesat, pembodohan, dll?"

"Heuheuheu. Kamu ini gimana? Ndak tau apa pura2 ndak tau? Manuskrip2 kita yang asli, karya2 leluhur kita itu di jarah habis2an. Terus mereka pelajari. Barulah kita dijadikan lupa leluhur kita, dijadikan kita ndak tau apa2, dijadikan kita saling mangsa sesamanya. Kejem to?"

"Bener ndak tau, Ki. Takut salah. Tapi ya memang kelihatanhya begitu."

"Lhoo, iya. Apa? Primbon? Primbon itu ada studinya zaman dahulu, ora njuk terus ujuk2 Mbah kita nulis sembarangan, jadi karya namanya primbon. Ndak gitu. Ada studinya, bahkan mereka mempelajarinya bertahun2 kalau kamu mau tau. Makanya kalau dilihat misalnya kamu lahir di tahun ini, bulan ini, hari ini, maka kamu wateknya seperti ini, keberhasilannya seperti ini. Itu studi dulu. Tapi kalau orang2 barat ngomong: karakter penderita mumet itu di sebabkan oleh kerja terlalu berat, perjalanan, kurang makan, dll. Yo kamu dan temen2mu itu mantuk2 aja. Terus mereka ngomong dan ini loh tombone. Waaduh! Memang Mbah2 kita itu goblok? Ndak! Coba nek mumet tanyao Mbah2mu. Tambane mung sepele. Tapi manjur? Yo manjur. Lha nek tombone mereka? Iku udah di proses pabrik. Bahkan paling ngeri kalau dikasih campuran lain yang bisa jadi ketergantungan. Karena apa? Yo mereka butuhnya untung, untung dan untung. Lhaa kamu sadar ndak?"

"Heuheuheu. Iya juga ya, Ki. Apakah pengetahuan seperti ini berbahaya juga, Ki?"

"Yo jelas bahaya, makanya saya ndak pernah ngomong gini di depan umum. Heuheuheu."

"Tapi apakah ada persamaan konteks yang hampir mirip, Ki? Misal primbon ya disana sama apa gitu?" 

"Yo jelas ada, cuma ndak tak kasih tau. Tombok nanti mbok golek2. Heuheuheu. Primbon itu mung alat bantu dan hasil studi. Makanya iso salah, iso bener. Ndak untuk di percayai. Tapi ojo disalahno. Angel to? Heuheuheu." 


Bukan siapa-siapa. Hanya pejalan biasa
Teks berhasil disalin!