Ponokawan: Mendem Tongkol
"Lha yho, Gong! Aku nate mendem tongkol ae rasanya pengen muntah, ngising dan ndak penak kabeh sak awak. Leng2an, di turoke ra penak, ngadek opo maneh. Ndak lagi2 pokoke. Sekarang, kalau liat bentuknya aja perut udah mual, langsung demo mungkin di dalam perutku. Lha iki lho, iki lho sing sok ngombe congyang bin ciu bin bekonang bin atang. Kok yo do betah."
"Heuheuheu. Levelmu mendem belum sampai ke tingkat yang lebih tinggi. Makanya rasanya marai sekarat meskipun cuma tongkol. Kalau udah tinggi, kamu ndak ngerasain lagi mana gliyengan, mana muntah, mana arep ngising, dll. Semua sudah menjadi satu dalam dirimu yang di sebut bahagia. Dalam kebaikan juga sama, Reng. Mungkin sekali dua kali, sampai seratus kali, waah angel arep berbuat baik, ono ae lah alangan. Tapi kalau kamu sudah biasa di asah dan levelmu udah makin naik. Kamu udah biasa itu, bahkan tanpa otakmu ngasih komando untuk berbuat baik, ragamu sudah mendahuluinya. Sak iki kamu percoyo to, yen semua ciptaan Tuhan juga ada baiknya, wong mendem juga ada baiknya berupa hikmah. Tuhan lebih dekat dari pada urat nadi, lhoo iku bahasa sastra, Reng. Tuhan aja bersastra, masa kamu ndak? Mana kebaikan Tuhan kepadamu? Lha ini, kamu merasakan mendem, ternyata gak enak blass. Ini juga nikmat kebaikan, Reng. Kamu akhirnya percaya bahwa wong mendem juga ada sisi baiknya untuk memberikan hikmah, ini juga kebaikan nikmat dari Tuhan, Reng. Nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan? Ini juga sastra sekaligus pengetahuan, Reng. Kapan2 bacalah sastra-Nya juga. Heuheuheu."

Gabung dalam percakapan